REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan mendekati level Rp 17.000 per dolar AS pada pekan ini. Perkiraan tersebut lantaran dipengaruhi gejolak yang terjadi dalam bursa kepemimpinan Bank Sentral AS, The Federal Reserve.
“Pagi ini rupiah terus mengalami pelemahan 43 poin, sekarang di Rp 16.820 per dolar AS. Ada kemungkinan besar rupiah akan mendekati Rp 17.000 lagi dalam minggu ini, walaupun kita tahu bahwa minggu ini tinggal dua hari, Kamis dan Jumat, tetapi saya memperkirakan mendekati,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).
Menurut prediksinya, rupiah masih akan berlanjut mengalami tren pelemahan pada pekan depan, dan semakin getol untuk menyentuh posisi Rp 17.000 per dolar AS. Ia menjelaskan, faktor yang paling berpengaruh terhadap pelemahan Mata Uang Garuda adalah dari eksternal, yakni proses penggantian Gubernur The Fed, yang berkaitan dengan langkah intervensi Presiden AS Donald Trump.
“Topik yang selalu dibicarakan secara eksternal itu tentang masalah pergeseran kepemimpinan Bank Sentral AS yang terus digoreng oleh para spekulan, tentang kepemimpinan (Kevin) Warsh, dimana Warsh ini dianggap adalah orang yang selalu mempertahankan suku bunga tinggi, dan tadi malam pun juga Trump sudah mengatakan bahwa kalau seandainya nanti Warsh ini menjabat sebagai Ketua Bank Sentral AS kemudian tidak mengikuti keinginan dari Trump, ya kemungkinan besar akan dipecat,” jelasnya.
Kondisi gonjang ganjing di Bank Sentral AS tersebut membuat ketegangan tersendiri. Walaupun Kevin Warsh belum diangkat sebagai Gubernur The Fed, itu pun sudah membuat spekulasi terus berkembang, dan memengaruhi penguatan dolar AS. Sehingga mata uang-mata uang emerging marketseperti rupiah mengalami tekanan.
“Dolar dipompa mengalami penguatan yang cukup signifikan, bahkan di bulan Januari ini pun juga kemungkinan Bank Sentral AS akan mempertahankan suku bunga,” terangnya.
Ibrahim melanjutkan, adapun pada malam nanti Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic kemungkinan besar akan memberikan keterangan mengenai kebijakan mempertahankan suku bunga tinggi. “Nah ini pun juga digoreng lagi oleh para spekulan,” ujarnya.
Di sisi lain, lanjut Ibrahim, permasalahan tensi geopolitik sedikit mereda. Namun update-nya masih menunggu pertemuan yang dilakukan oleh AS dan Iran pada Jumat besok. Keinginan AS diketahui bukan hanya reaktor nuklir saja, tetapi termasuk misil jarak menengah dan jarak jauh.
“Ini yang kemungkinan besar aka nada deadlock pertemuan antara pejabat AS dan pejabat Iran, yang kita lihat bahwa ini pun kemungkinan besar akan mengangkat indeks dolar AS kembali lagi mengalami penguatan,” terangnya.

2 hours ago
3















































