Bincang Bareng BCA bersama Kepala Ekonom BCA David Sumual, di Jakarta, Senin (15/12/2025).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai tahun 2026 akan menjadi periode penentuan bagi perekonomian Indonesia, seiring pemerintahan baru mulai memasuki fase operasional penuh setelah melalui masa konsolidasi sepanjang 2025.
“Jadi memang tahun 2026 ini tahun penentuan. Kalau 2025 itu masa konsolidasi pemerintahan baru, banyak penyesuaian. Nah, 2026 diharapkan mesinnya sudah mulai running,” kata David saat bertemu media, di Jakarta, Senin (15/12/2025) lalu.
Ia menjelaskan, kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 justru melampaui ekspektasi banyak lembaga global yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 4,7–4,8 persen. Indonesia bahkan mencatat pertumbuhan lebih baik dibanding sejumlah negara tetangga dan Amerika Serikat. Salah satu penopang utama adalah kontribusi ekspor yang meningkat signifikan.
“Tertundanya pemberlakuan tarif Trump ini blessing in disguise. Banyak negara, termasuk Indonesia, justru ditopang oleh ekspor. Di kuartal III, kontribusi net export kita di atas 2 persen,” ujarnya. Ia menambahkan, percepatan ekspor dilakukan untuk mengantisipasi kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, dengan kontribusi ekspor terbesar menuju Amerika Serikat.
Di dalam negeri, David mencatat semester pertama 2025 masih diwarnai realokasi anggaran dan program pemerintah yang belum berjalan optimal. Namun, pada kuartal III terjadi pemulihan seiring meningkatnya belanja masyarakat dan aktivitas korporasi.
Meski demikian, David mengingatkan risiko global tetap membayangi 2026. Faktor geopolitik, bencana alam, serta arah kebijakan moneter global, termasuk potensi pergantian Gubernur The Fed pada Mei 2026, menjadi variabel penting yang perlu diantisipasi.
“Risiko eksternal dan fiskal bisa muncul tiba-tiba. Itu yang harus terus kita waspadai bersama,” tegasnya.

1 month ago
38















































