Obat herbal diabetes (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masa depan kesehatan bangsa kini dipertaruhkan pada kecepatan laboratorium penelitian, di mana setiap inovasi farmasi bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan senjata utama untuk memenangkan kemandirian obat nasional sekaligus mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Langkah besar diambil oleh Badan POM dengan menjalin kerja sama strategis bersama Kementerian Diktisaintek untuk memperkuat hilirisasi penelitian di bidang kesehatan. Hilirisasi dalam konteks ini adalah proses mengubah hasil penelitian ilmiah murni atau temuan laboratorium menjadi produk nyata yang siap diproduksi massal dan digunakan oleh masyarakat luas. Tujuannya adalah agar ribuan jurnal penelitian tidak hanya berakhir di rak perpustakaan, melainkan bertransformasi menjadi obat-obatan, vaksin, atau suplemen kesehatan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Melalui hilirisasi, BPOM berupaya memastikan bahwa setiap inovasi dari perguruan tinggi memiliki jalur yang jelas menuju pasar industri. Dengan mempercepat transisi dari riset ke produk komersial, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku obat impor yang selama ini membebani neraca perdagangan. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen HUT ke-25 BPOM untuk mengejar target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan di Jakarta, Rabu (28/1), bahwa strategi ini diwujudkan melalui pendekatan Akademia-Bisnis-Pemerintahan (ABG). Pendekatan ini merupakan sinergi tiga pilar utama: universitas sebagai pusat riset dan inovasi, pelaku bisnis atau industri sebagai pemodal dan pemasar, serta pemerintah sebagai regulator yang memberikan payung hukum dan kemudahan izin. Kolaborasi segitiga ini memastikan bahwa riset yang dihasilkan akademisi relevan dengan kebutuhan pasar dan didukung penuh oleh regulasi yang memastikan keamanan produk.
Taruna menyoroti ketertinggalan publikasi ilmiah kesehatan Indonesia yang baru mencapai 11 ribu, jauh di bawah Singapura yang menembus 500 ribu. Dengan 4.000 universitas di bawah kepemimpinan Menteri Brian Yuliarto, BPOM berharap publikasi ilmiah dapat melompat ke angka 100 ribu dalam waktu singkat. "BPOM menyumbang sekitar 400 miliar dolar AS atau hampir 40 persen dari PDB Indonesia. Partisipasi kami adalah menciptakan regulasi yang menjamin keamanan sekaligus mempermudah proses sertifikasi bagi 4,2 juta pelaku industri," tegas Taruna.
Menteri Diktisaintek, Brian Yuliarto, menyambut positif kolaborasi ini sebagai kunci mewujudkan kemandirian obat nasional. Dengan kekuatan 126 perguruan tinggi negeri, 300 ribu dosen, dan 12 ribu profesor, aset intelektual Indonesia sangat melimpah. "Bapak Presiden telah berkomitmen menaikkan anggaran riset sebesar Rp4 triliun, dan sektor obat-obatan akan menjadi salah satu prioritas utama agar Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri," pungkas Brian.
sumber : Antara

3 hours ago
4















































