REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Volkswagen melihat peluang baru untuk meraup keuntungan dengan memanfaatkan biaya produksi yang lebih rendah di China. Pabrikan asal Jerman ini merancang strategi mengekspor kendaraan ke sejumlah pasar global, khususnya Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Amerika Selatan.
Namun, Volkswagen tidak akan menyalurkan mobil produksi China ke pasar Eropa. Kepala Divisi China Volkswagen, Ralf Brandstaetter, mengatakan strategi ekspor tersebut difokuskan pada kawasan dengan pertumbuhan pasar yang dinilai masih menjanjikan. “Kami tidak berencana mengekspor ke Eropa,” ujar Brandstaetter kepada wartawan, Selasa (28/1/2026).
Langkah ini mencerminkan upaya Volkswagen untuk mengoptimalkan jaringan manufakturnya di China, sekaligus menjaga daya saing harga di tengah ketatnya persaingan global. China saat ini menjadi basis produksi utama dengan struktur biaya yang lebih efisien dibandingkan Eropa.
Sementara itu, CEO Volkswagen Oliver Blume mengakui industri otomotif global masih menghadapi tantangan besar, meskipun perusahaan mereka mencatat kemajuan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Ia menilai performa model-model terbaru Volkswagen cukup solid, tetapi tekanan biaya belum sepenuhnya mereda.
“Kami harus terus bekerja keras. Kami perlu menghasilkan lebih banyak keuntungan agar mampu berinvestasi lebih kuat untuk masa depan,” kata Blume.
Di China, Volkswagen menghadapi persaingan sengit dari produsen lokal seperti BYD dan Geely. Kedua merek tersebut berhasil menyalip Volkswagen sebagai produsen mobil terlaris dalam beberapa tahun terakhir, terutama berkat agresivitas mereka di segmen kendaraan listrik.
Penurunan posisi Volkswagen di pasar otomotif terbesar dunia itu juga dipicu oleh keterlambatan Volskwagen mengembangkan dan memasarkan kendaraan listrik yang kompetitif. Di sisi lain, perang harga yang berlangsung di China semakin menekan margin keuntungan para produsen global.
Brandstaetter menilai tekanan harga di pasar China mulai mencapai titik jenuh. “Harga sekarang sudah berada pada level di mana kami memperkirakan tidak akan turun lebih jauh. Namun, kecil kemungkinan harga akan naik kembali,” ujarnya.
Meski menghadapi tantangan berat, Volkswagen tetap menargetkan posisi strategis di China. Dalam jangka panjang, Volskwagen menegaskan ambisinya untuk tetap bertahan sebagai salah satu dari tiga produsen mobil terbesar di Negeri Tirai Bambu tersebut.
sumber : Reuters

2 hours ago
2















































