Kenali Rahasia Seribu Hari Pertama yang Tentukan Nasib Kecerdasan Anak

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Investasi terbaik bagi masa depan bangsa bukan terletak pada tumpukan harta, melainkan pada sepiring gizi seimbang yang dikonsumsi anak-anak kita setiap hari, karena setiap suapan nutrisi adalah fondasi utama bagi kecerdasan otak dan ketahanan tubuh mereka.

Dietisien dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Luthfianti Diana Mauludiyah, menegaskan bahwa pemberian gizi seimbang harus dimulai sedini mungkin, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Fase ini dimulai sejak janin dalam kandungan (270 hari) hingga anak berusia dua tahun (730 hari). HPK adalah jendela peluang emas sekaligus periode kritis; jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi di masa ini, dampaknya terhadap perkembangan fisik dan kecerdasan anak bisa bersifat permanen dan sulit diperbaiki di masa depan.

Pentingnya 1.000 HPK terletak pada pertumbuhan organ vital, terutama otak, yang berkembang sangat pesat hingga mencapai 80 persen dari kapasitas orang dewasa. Nutrisi yang tepat pada periode ini mencegah risiko stunting, meningkatkan kemampuan kognitif, dan memperkuat sistem imun. Sebaliknya, kekurangan gizi pada fase ini dapat menyebabkan anak rentan terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes atau obesitas saat mereka dewasa nanti.

Luthfianti menambahkan bahwa konsistensi pemberian gizi harus berlanjut ke usia prasekolah (2–5 tahun) untuk mendukung perkembangan bahasa, hingga usia sekolah di mana anak membutuhkan energi besar untuk konsentrasi belajar. "Gizi seimbang harus diberikan secara konsisten setiap hari, bukan hanya di usia tertentu," jelasnya pada Rabu (28/1).

Secara teknis, gizi seimbang merujuk pada komposisi makanan harian yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Prinsipnya tidak hanya fokus pada kuantitas atau rasa kenyang, tetapi pada keberagaman pangan yang mencakup karbohidrat sebagai sumber energi, protein hewani atau nabati untuk pertumbuhan, serta lemak sehat dan serat dari sayur dan buah sebagai pengatur fungsi tubuh.

Penerapan gizi seimbang ini juga harus memperhatikan proporsi porsi dalam "Isi Piringku", di mana keseimbangan antara zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur terjaga agar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian terpenuhi. Dengan komposisi yang pas, tubuh tidak akan kelebihan atau kekurangan nutrisi tertentu, sehingga berat badan tetap ideal dan fungsi organ berjalan optimal.

Sejalan dengan hal itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai terlihat nyata di lapangan.

Program yang telah menjangkau 58 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil hingga siswa SMA, ini membuat anak-anak lebih aktif, berstamina, dan jarang jatuh sakit. Namun, Dadan mengingatkan bahwa kesadaran orang tua di rumah tetap menjadi kunci keberlanjutan.

Program pemerintah hanyalah stimulus; tanpa edukasi gizi di lingkungan keluarga, cita-cita menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tidak akan tercapai secara maksimal.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |