Kualitas Gizi Anak Jadi Sorotan di Tahun Kedua MBG

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) tahun 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan kebijakan gizi di Indonesia. Memasuki tahun kedua pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian publik kini tidak lagi hanya tertuju pada perluasan jangkauan program, tetapi juga pada kualitas serta dampaknya terhadap perbaikan status gizi anak dan remaja.

Program MBG hadir sebagai intervensi baru dalam pemenuhan gizi anak dan telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Namun, dinamika pelaksanaan sepanjang 2025, termasuk isu kualitas menu, keamanan pangan, dan respons masyarakat, menunjukkan pemenuhan gizi anak merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada penyediaan makanan semata. Hal ini menegaskan pentingnya melihat MBG sebagai bagian dari ekosistem gizi yang lebih luas.

Ketua Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Manik Marganamahendra, menyampaikan tahun kedua MBG merupakan fase penting untuk memahami bagaimana program ini berinteraksi dengan realitas sosial di tingkat keluarga. “MBG menghadirkan intervensi penting dalam pemenuhan gizi anak. Namun pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kualitas dan konsistensi gizi yang diterima anak sangat dipengaruhi oleh kondisi di luar sekolah, terutama lingkungan keluarga tempat mereka tumbuh,” ujar Manik.

Manik menambahkan, di sejumlah wilayah, keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah masih menghadapi tantangan dalam menjaga pemenuhan gizi anak secara berkelanjutan di rumah. Manik juga menyatakan fase satu tahun program MBG harus diukur hasil dan dampaknya pada gizi anak juga keluarga.

“Dalam keseharian, rumah tangga dihadapkan pada berbagai pilihan pengeluaran. Sebagian diantaranya dialokasikan untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif dan tidak selalu mendukung pemenuhan gizi anak. Ini bukan soal menyalahkan pilihan individunya, tetapi menggambarkan betapa kompleksnya faktor yang memengaruhi tercapainya status gizi yang optimal,” lanjutnya

Ia juga mengingatkan keberhasilan intervensi gizi tidak hanya ditentukan apa yang diterima anak di sekolah, tetapi juga lingkungan kesehatan di rumah, termasuk pola konsumsi dan paparan berbagai risiko. Faktor-faktor di luar sekolah inilah yang kemudian menentukan apakah intervensi gizi dapat berdampak optimal dan berkelanjutan terhadap tumbuh kembang anak, termasuk dalam menurunkan risiko stunting.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Tim Ahli Kesehatan Masyarakat IYCTC, Adhiyatma Nizar Fuaddy, yang menyoroti pentingnya melihat pemenuhan gizi anak melalui pendekatan berbasis bukti dan kesehatan masyarakat. Ia menekankan konsumsi rokok, baik secara aktif maupun paparan asap rokok di rumah, memiliki kaitan yang kuat dengan risiko stunting pada anak.

“Berbagai kajian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh di rumah dengan paparan asap rokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan. Paparan ini tidak hanya datang dari perokok aktif atau perokok pasif, tetapi juga dari residu zat berbahaya yang menempel di pakaian, perabot, dan ruang tertutup atau yang dikenal sebagai thirdhand smoke. Pengendalian tembakau perlu dilaksanakan selaras dengan intervensi gizi untuk mengoptimalkan intervensi gizi untuk anak,” jelas Adhiyatma.

Ia merujuk pada ringkasan kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa paparan asap rokok meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, gangguan penyerapan nutrisi, serta inflamasi kronis, faktor-faktor yang berkontribusi langsung terhadap stunting pada anak. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menunjukkan hubungan signifikan antara perilaku merokok orang tua dan kejadian stunting pada anak balita.

Selain dampak kesehatan langsung, Adhiyatma menambahkan konsumsi rokok juga memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Analisis berbasis data Susenas yang dilakukan oleh Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) menunjukkan pengeluaran rumah tangga untuk rokok berkorelasi dengan penurunan konsumsi protein dan energi, terutama pada kelompok rumah tangga berpengeluaran rendah.

“Rata-rata pengeluaran rokok sekitar Rp12.956 per rumah tangga per hari sebenarnya memiliki potensi besar jika dialihkan untuk pangan bergizi. Pada anak usia 4-6 tahun, pengalihan ini berpotensi meningkatkan pemenuhan energi hingga 27-85 persen dan protein hingga lebih dari dua kali kebutuhan harian berdasarkan Recommended Dietary Allowance (RDA),” ungkapnya.

Menurut Adhiyatma, temuan-temuan ini menunjukkan intervensi seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) akan bekerja lebih optimal jika dibarengi dengan upaya memperbaiki lingkungan rumah yang bebas asap rokok serta peningkatan literasi gizi keluarga. “Tanpa lingkungan yang sehat, manfaat gizi dari makanan yang dikonsumsi anak berisiko tereduksi. Selain itu, evaluasi komprehensif terhadap program MBG juga diperlukan untuk melihat dampak program terhadap pengeluaran rumah tangga, terutama pengeluaran untuk pemenuhan gizi dan konsumsi rokok,” kata dia.

Read Entire Article
Politics | | | |