Di Ujung Sabah, Ketika Anak-Anak Tawau Menyimpan Sakit di Balik Senyumnya

3 hours ago 5

Image Dr Drg Laelia Dwi Anggraini Spkga

Edukasi | 2026-02-18 01:27:46

Tawau, Malaysia — Di sebuah sudut Tawau, tak semua anak berani tersenyum lebar. Bukan karena mereka tak bahagia, tetapi karena rasa ngilu yang sudah terlalu sering datang dan pergi.

Sebagian dari mereka terbiasa menahan sakit. Gigi berlubang dianggap hal biasa. Nafsu makan terganggu, tidur tak nyenyak, namun keluhan jarang terdengar. Di sinilah Dr. drg. Laelia Dwi Anggraini, Sp.KGA dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta hadir melalui program Pengabdian kepada Masyarakat internasional, bekerja sama dengan Universiti Malaya.

Ketika Pemeriksaan Menjadi Fakta yang Menggetarkan

Saat pemeriksaan awal dilakukan, realitas itu tampak jelas. Banyak anak mengalami karies yang cukup parah. Ada yang sudah mencapai tahap lanjut, namun belum pernah mendapatkan penanganan.

Beberapa anak bahkan mengaku sudah lama merasa sakit saat makan, tetapi mengira itu adalah hal yang “wajar”. Minimnya edukasi preventif dan keterbatasan akses layanan menjadi lingkaran yang sulit diputus.

“Masalahnya bukan hanya soal gigi berlubang,” ujar Dr. Laelia. “Ini tentang kualitas hidup. Anak yang kesakitan akan sulit fokus belajar, sulit makan dengan baik, dan kepercayaan dirinya bisa menurun.”

Edukasi yang Menjadi Harapan

Alih-alih hanya memeriksa, tim memilih pendekatan yang menyentuh hati. Anak-anak diajak memahami bahwa sakit gigi bukan takdir. Mereka diajari menyikat gigi dengan teknik yang benar, mengenali makanan yang merusak gigi, dan memahami pentingnya kontrol rutin.

Di tengah sesi edukasi, seorang anak perempuan dengan suara pelan berkata bahwa ia sering menahan sakit karena takut ke dokter. Momen itu menjadi pengingat bahwa ketakutan dan ketidaktahuan seringkali lebih besar dari rasa sakit itu sendiri.

Melalui pendekatan yang hangat dan partisipatif, anak-anak perlahan mulai berani bertanya. Mereka tertawa saat mencoba sikat gigi bersama. Beberapa bahkan berjanji ingin menjadi dokter gigi agar bisa membantu teman-temannya.

Kolaborasi yang Melampaui Batas Negara

Kegiatan ini didukung penuh oleh akademisi dari Universiti Malaya, yang bersama FKG UMY mendiskusikan strategi jangka panjang untuk intervensi kesehatan gigi anak berbasis komunitas.

Kolaborasi lintas negara ini menjadi bukti bahwa persoalan kesehatan anak bukan sekadar isu lokal, melainkan tanggung jawab bersama kawasan. Dari Yogyakarta ke Tawau, ilmu dan kepedulian bergerak tanpa mengenal batas.

Senyum yang Layak Diperjuangkan

Gambar 1. Tim medis gabungan FKG UMY Indonesia dan UM Malaysia

Menjelang akhir kegiatan, satu per satu anak mulai tersenyum lebih percaya diri. Mungkin rasa sakit belum sepenuhnya hilang. Namun ada sesuatu yang berubah — mereka kini tahu bahwa kesehatan gigi bisa dijaga, dan bahwa ada orang-orang yang peduli.

Di Tawau, senyum bukan sekadar ekspresi. Ia adalah harapan. Dan bagi Dr. Laelia, setiap senyum yang kembali merekah adalah alasan mengapa pengabdian harus terus dilakukan, bahkan hingga ke ujung negeri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |