Guru Besar Unair Soroti Tantangan Deputi Gubernur BI di Tengah Sentimen Pasar

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru akan langsung dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah besar, mulai dari menjaga stabilitas moneter hingga memulihkan kepercayaan pasar di tengah dinamika domestik yang sensitif. Menurut Rahma, tantangan tersebut tidak ringan, terutama ketika pasar tengah mencermati proses pencalonan pimpinan bank sentral.

Saat dihubungi di Jakarta, Senin (26/1/2026), Rahma menjelaskan tugas utama yang harus segera dijalankan adalah menjaga stabilitas moneter, termasuk mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen.

“Kebijakan moneter harus tetap berorientasi pada stabilitas agar daya beli masyarakat dan kepercayaan pelaku usaha terjaga,” ujar Rahma.

Selain inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian krusial. Bank Indonesia, kata dia, perlu menjaga nilai tukar tetap stabil dan sejalan dengan fundamental ekonomi.

“BI perlu mengoptimalkan instrumen moneter yang pro-market, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valuta Asing BI (SVBI), dan Sekuritas Valuta Asing BI Valas (SUVBI) untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter,” katanya.

Rahma juga menyoroti pentingnya komunikasi dan koordinasi kebijakan antara BI dan pemerintah. Sinergi yang kuat dinilai diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Di sisi lain, koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga harus diperkuat guna memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.

Selain kebijakan moneter, Rahma menilai kebijakan makroprudensial perlu terus dioptimalkan agar sektor keuangan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas.

Sebagaimana diketahui, Komisi XI DPR RI dijadwalkan mengumumkan hasil uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Deputi Gubernur BI pada Senin (26/1/2026). Keputusan akan diambil melalui rapat internal setelah seluruh kandidat menyelesaikan tahapan uji kelayakan.

Dalam konteks terkini, Rahma mengakui munculnya sentimen negatif dari proses pencalonan tersebut. Masuknya nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dinilai turut memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.

Tekanan terhadap rupiah, kata dia, tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga faktor domestik seperti persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan independensi bank sentral.

“BI harus diisi figur yang memiliki pemahaman mendalam tentang kebijakan moneter, sistem keuangan, dan ekonomi makro, serta mampu menjaga independensinya,” ujar Rahma.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Politics | | | |