Blue-Water Navy Indonesia: Strategi Melampaui Dominasi Laut

2 hours ago 3

Oleh: Selva Andrea*)

Rivalitas hegemonik serta kompetisi geopolitik yang kian intens membuat kemampuan pengendalian serta operasi di laut sebagai suatu keniscayaan bagi suatu negara. Demikian pula bagi Indonesia.

Sebagai sebuah negara kepulauan, RI mesti mampu mengamankan domain maritimnya, baik di laut teritorial hingga laut lepas. Transformasi TNI Angkatan Laut (AL) dari green-water navy menjadi blue-water navy kini tidak lagi bersifat teoretis, tetapi sudah menjadi strategi bagi Indonesia untuk memposisikan diri dalam tatanan global dan regional yang baru.

Asal-usul konsep blue-water navy tidak lepas dari doktrin Sea Power yang dikemukakan oleh Alfred Thayer Mahan. Ia berpendapat, kekuatan suatu negara bergantung pada kemampuan pengendalian laut (sea control) untuk mengamankan jalur perdagangan yang vital bagi keberlangsungan hidupnya serta menciptakan daya gentar (deterrence) terhadap musuh.

Dalam pandangan lain, blue-water navy tidak mesti mencirikan angkatan laut yang berdaya jangkau global. Sir Julian Corbett, misalnya, memandang bahwa pengendalian laut bisa bersifat relatif, berfokus hanya di titik-titik tertentu yang vital dan strategis bagi perdagangan dan sekaligus politik.

Dalam perkembangannya, blue-water navy telah berevolusi dari konsep yang bersifat doktrinal dan ideologis menjadi konsep deskriptif yang lebih menekankan pada kapabilitas. Dengan demikian, pencapaian ambisi blue-water navy tidak lagi identik dengan penguasaan domain maritim secara global.

Kerangka doktrinal yang paling relevan saat ini dikembangkan oleh Laksamana Prancis, Raoul Castex. Terinspirasi oleh Mahan dan Corbett, Castex berpendapat, kekuatan maritim harus dipahami melalui keterkaitannya dengan geografi, politik, aliansi, dan teknologi suatu negara.

Ia menawarkan kerangka yang lebih adaptif, integratif, dan kontekstual untuk membantu angkatan laut bertransisi menuju blue-water navy. Operasionalisasi blue-water navy berdasarkan doktrin Mahan tidak bisa diterapkan di semua negara, terutama selain negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Saat ini, beberapa angkatan laut di dunia telah dan sedang bertransisi dari green-water navy menuju blue-water navy berkat peningkatan kapabilitasnya. Contohnya, Brasil, yang baru saja meluncurkan kapal selam keempat dari program PROSUB—Almirante Karam—pada 26 November lalu, dan dalam beberapa tahun mendatang akan mampu beroperasi sebagai blue-water navy sepenuhnya.

Begitu pula dengan Turki dan Italia yang juga memiliki aset dan kapabilitas berkriteria blue-water navy meski tidak serta merta sejalan dengan doktrin Mahan. Hal yang sama berlaku bagi Jepang, yang pendekatannya lebih mencerminkan doktrin Corbett dan beberapa unsur pemikiran Castex.

Dalam perspektif Castex, kapabilitas menjadi faktor penting dalam peralihan dari green-water navy menuju blue-water navy. Dalam konteks Indonesia, pendekatan tersebut sangat relevan.

Pada 24 Oktober 2025, Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana Muhammad Ali menyatakan, TNI AL memprioritaskan pengembangan green-water navy yang solid terlebih dahulu sebelum akhirnya beranjak menuju kapabilitas blue-water navy.

Ia menegaskan, transisi tersebut akan bergantung pada perluasan armada serta peningkatan sistem persenjataan dan tempur. Menariknya, Kasal juga menegaskan, misi TNI AL akan berfokus pada diplomasi, misi kemanusiaan, dan operasi militer selain perang (OMSP).

Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Castex tentang strategi maritim, yakni kekuatan laut dibangun secara bertahap, disesuaikan dengan sumber daya nasional, dan digunakan sebagai instrumen kebijakan negara. Jadi, bukan sebagai sarana dominasi laut saja.

Penekanan Laksamana Ali terhadap pembangunan TNI AL secara bertahap mencerminkan pandangan Castex: ekspansi armada harus disesuaikan dengan geografi, kapasitas industri pertahanan, dan kebutuhan strategis nasional. Gagasan bahwa misi TNI AL berfokus pada diplomasi, OMSP, dan bantuan kemanusiaan juga selaras dengan pandangan Castex, yakni kekuatan laut dapat berkontribusi pada strategi nasional melalui kehadiran, pengaruh, dan fungsi multi-peran.

Pendekatan ini konsisten dengan peran Indonesia sebagai aktor stabilisator di Asia Tenggara dan komitmennya terhadap perdamaian global melalui kerangka keamanan kooperatif. Dalam kerangka Castex, pendekatan Indonesia menggambarkan angkatan laut yang terintegrasi dalam suatu sistem aliansi dan kemitraan yang lebih luas.

Bukan sebagai alat proyeksi kekuatan, tetapi sebagai instrumen kebijakan nasional dan tanggung jawab internasional. Dalam perspektif ini, Indonesia tampak berada di jalur yang tepat menuju blue-water navy.

Pertanyaan mengenai pembangunan tentang kemampuan dan kapabilitas akan membentuk postur green-water navy yang kuat serta serta mendorong transisi menuju operasi blue-water navy.

Modernisasi alutsista yang sedang berlangsung di tubuh TNI, khususnya TNI AL, menunjukkan kemajuan yang signifikan. Indonesia mulai mengoperasikan kapal kombatan generasi baru seperti Fregat Merah Putih dan PPA, dan akan segera mengoperasikan kapal selam modern kelas Scorpène Evolved.

Ke depannya, akan sangat penting bagi Indonesia untuk terus memperluas kemampuan armadanya dengan sejumlah kapal kombatan berkemampuan tinggi dalam Anti-Air Warfare (AAW) dan Anti-Submarine Warfare (ASW), serta menambah jumlah kapal selam untuk memperkuat kesiapan operasional secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kerangka doktrinal yang tengah berkembang.

Secara keseluruhan, evolusi postur maritim Indonesia mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam memandang kekuatan laut di abad ke-21. Kekuatan maritim bukan lagi sebagai upaya untuk menguasai laut, melainkan sebuah instrumen stabilitas, pengaruh, dan kebijakan nasional yang terukur. Dalam konteks ini, kerangka adaptif Castex dapat menjadi acuan yang sangat relevan karena selaras dengan geografi, sumber daya, dan ambisi Indonesia.

Seiring bertambahnya kekuatan armada dan kapabilitas operasionalnya TNI AL, dialog komparatif dengan angkatan laut negara lain yang memiliki cara pandang berbeda namun non-hegemonik dan beraspirasi blue-water dapat memberikan wawasan berharga.

Prancis—yang pemikiran maritimnya dibentuk oleh pendekatan integratif Castex—Jepang dengan postur maritim berbasis kapabilitas yang dipandu oleh kebijakan nasionalnya, dan Brasil yang menempuh transisi bertahap melalui pengembangan kapabilitas unggulan, masing-masing menawarkan perspektif berbeda namun saling melengkapi bagi Indonesia dalam transformasinya menuju operasi blue-water navy.

*) Selva Andrea adalah seorang ahli media monitoring dari PT Semar Sentinel Indonesia. Semar Sentinel merupakan sebuah konsultan dan firma advisory yang fokus pada business intelligence dan strategic intelligence, terutama di sektor keamanan, pertahanan, politik, dan aerospace.

Read Entire Article
Politics | | | |