Soleh
Agama | 2026-02-20 22:24:36
Pola makan adalah salah satu pengaruh terbesar terhadap kesehatan tubuh kita. Pada hari-hari biasa, kita bisa makan sepuasnya. Apa pun dilahap selama masih merasakan lapar. Bahkan, kita sangat akrab dengan kebiasaan ngemil alias menyantap camilan atau kudapan ringan di sela waktu bekerja dan aktivitas lainnya.
Belum lagi konsumsi gula yang berlebih. Selain kebiasaan ngemil, kita juga kini akrab sekali dengan kebiasaan ngopi. Entah itu americano, es kopi gula aren, ataupun cokelat dan matcha.
Kebiasaan ini kian gandrung di kalangan anak muda, pelajar, mahasiswa, juga para pekerja usia muda. Akibatnya, pasien cuci darah melonjak. Mirisnya mereka berasal dari kalangan usia muda.
Sebagaimana diungkapkan data BPJS Kesehatan yang mencatat lebih dari 134 ribu pasien gagal ginjal kronis sepanjang 2024. Hal ini dipicu tidak hanya karena konsumsi gula dan makanan ultraproses secara berlebihan. Namun, juga pola hidup tidak sehat, jarang olahraga, dan terlalu banyak menatap layar.
Mengonsumsi gula dan makanan enak memang tidak menjadi masalah apabila dilakukan secara proporsional. Namun, jika berlebihan, tentu ada akibatnya. Islam mengajarkan kita untuk menghindari perilaku berlebih-lebihan.
Allah Swt dalam QS. Al-A’raf ayat 31 berfirman:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ٣١
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Islam juga mengajarkan kita untuk pintar dalam memilah-milih makanan. Kita diperintahkan untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (thayyib). Hal ini diperintahkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 168:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨
Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.”
Makanan yang halal artinya makanan yang di dalamnya tidak terkandung zat-zat yang diharamkan, seperti khamr, minyak babi, darah hewan, dan sebagainya. Halal juga bisa mencakup proses pengolahan bahan makanan. Jika itu olahan daging hewan dipastikan disembelih dengan benar sesuai syariat Islam.
Selain dua hal tersebut, kehalalan makanan juga berkaitan dengan cara mendapatkannya. Makanan yang halal harus diperoleh dengan cara-cara yang halal.
Momentum Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan adalah ikhtiar yang wajib dilakukan setiap Muslim. Tubuh adalah titipan Allah Swt. Dengan memakan makanan yang baik dengan cara yang baik dapat membantu kita menjaga kesehatan tubuh. Selain itu, asupan gizi seimbang dan olahraga juga diperlukan.
Ibadah puasa pada bulan Ramadan mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga pola makan dan memperhatikan asupan gizi. Pada saat puasa, kita diajarkan untuk menahan lapar. Makan hanya di waktu buka puasa dan sahur.
Membiarkan perut kosong selama 12 jam memberikan waktu untuk tubuh mengatur ulang metabolismenya. Jika kita bisa mengatur makan sebaik mungkin pada waktu buka dan sahur, niscaya tubuh akan lebih sehat dan bugar.
Percayalah, puasa merupakan ibadah yang tidak hanya menjadi ajang meningkatkan ketakwaan dan spiritualitas kita, tetapi juga menyehatkan.
3 Ramadan 1447 H
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3













































