REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga emas atau logam mulia diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat pada pekan depan. Harga emas berpotensi mencapai Rp 3,15 juta per gram, seiring dinamika sentimen global yang memengaruhinya.
Harga emas dunia pada Sabtu pagi tercatat ditutup di posisi 5.103 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia domestik berada di level Rp 3,012 juta per gram.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi, secara teknikal jika harga emas menurun, level support pertama berada di 5.045 dolar AS per troy ons dan Rp 2,95 juta per gram. Support kedua berada di 4.953 dolar AS per troy ons dan Rp 2,9 juta per gram.
“Kalau seandainya harga emas dunia naik, level resistance pertama di 5.178 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia Rp 3,052 juta per gram, itu mungkin terjadi di hari Senin (23/2/2026). Kemudian sampai hari Jumat atau Sabtu pagi, kemungkinan besar resistance kedua di 5.263 dolar AS per troy ons, dan logam mulianya Rp 3,15 juta per gram,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Ahad (22/2/2026).
Sentimen Geopolitik dan Politik AS
Ibrahim menjelaskan sejumlah sentimen diperkirakan mendorong penguatan harga emas. Salah satunya faktor geopolitik, yakni kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik di Timur Tengah setelah Perdana Menteri Israel menunda rapat kabinet dan melakukan komunikasi intensif dengan Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan serangan terhadap Iran.
Ia menyebut keberadaan dua kapal induk AS di kawasan tersebut mengindikasikan keseriusan AS. Iran juga dilaporkan menyiapkan kekuatan militernya apabila terjadi serangan.
Ibrahim menilai potensi konflik berkepanjangan dapat mengganggu pasokan minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak, terutama Brent dan crude oil, berisiko memicu inflasi global.
“Nah, inflasi inilah yang membuat harga emas akan kembali mengalami kenaikan,” ujarnya.
Selain itu, kondisi politik di AS juga menjadi sentimen. Mahkamah Agung AS memutuskan dengan suara 6-3 bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki wewenang menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional untuk memberlakukan tarif perang dagang.
Menurut Ibrahim, keputusan tersebut memanaskan situasi politik domestik AS. Trump kemudian merespons dengan menurunkan tarif impor menjadi 10 persen.
Isu lain yang menjadi perhatian pasar adalah polemik pemecatan Anggota Dewan Gubernur The Fed Lisa Cook oleh Trump, yang berpotensi kembali diuji di Mahkamah Agung. Bank sentral AS dikenal sebagai lembaga independen sehingga dinamika tersebut dinilai dapat menambah ketidakpastian.

2 hours ago
3












































