Masjid Sabilurrohman
Khazanah | 2026-02-21 00:30:19
hamparan sajadah yang luas, hanya satu sosok duduk dalam heningnya malam Ramadhan. Masjid yang seharusnya penuh oleh saf-saf rapat kini terasa lengang, seakan menjadi cermin keadaan hati.
Ramadhan selalu datang membawa cahaya. Namun cahaya itu sering hanya ramai di awal. Setelah beberapa hari, saf kembali menipis. Tarawih mulai renggang. Shalat Subuh kembali sunyi.
Betapa sedih hati ini ketika melihat masjid di negeri mayoritas Muslim hanya terisi satu shaf. Bahkan ada tempat yang tak lagi berkumandang adzan karena manusia terlalu sibuk dengan dunianya.
Padahal Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya shalat ” (HR. Ahmad bin Hanbal, Al-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Tiang itu bernama shalat. Jika tiang rapuh, bangunan pun mudah runtuh.
Ramadhan bukan sekadar bulan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan memakmurkan masjid. Bulan membangunkan hati. Bulan menguatkan kembali tiang agama. Namun fenomena saf yang menipis menunjukkan satu hal: sebagian dari kita masih beribadah karena suasana, bukan karena kebutuhan jiwa.
Awal Ramadhan terasa menggetarkan. Masjid penuh. Tilawah deras. Sedekah mengalir. Tetapi ketika euforia mereda, semangat ikut menurun. Inilah tanda bahwa iman belum benar-benar berakar.
Ramadhan mengajarkan bahwa konsistensi lebih berharga daripada ledakan semangat sesaat. Masjid yang sepi bukan hanya persoalan jumlah jamaah—ia adalah alarm ruhani. Jika adzan kalah oleh notifikasi, jika tarawih kalah oleh rasa lelah dunia, maka hati sedang condong pada yang fana.
Maka perbaikannya bukan menyalahkan keadaan, tetapi menguatkan komitmen.
Jangan menunggu suasana untuk taat.
Jangan menunggu ramai untuk hadir.
Jangan menunggu orang lain untuk memulai.
Mulailah dari diri sendiri.
Tidak perlu target besar yang memberatkan. Cukup satu komitmen yang dijaga:
Subuh berjamaah yang tidak ditinggalkan.
Tarawih yang diselesaikan dengan sabar.
Langkah kaki ke masjid yang dipaksa di awal, lalu menjadi rindu di akhir.
Karena yang membangun kekuatan iman bukan semangat hari pertama—tetapi kesetiaan hingga hari terakhir.
Malam ini, mari bertanya dengan jujur:
Apakah kita bagian dari yang menghidupkan masjid
atau hanya penonton yang menyesalinya?
Semoga Ramadhan kali ini tidak hanya ramai di permulaan, tetapi kokoh sampai penghujungnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3













































