REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjelang berbuka puasa di bulan suci Ramadhan, hampir di setiap sudut negeri, waktu seakan melambat. Langit sore berubah menjadi panggung semesta, jalanan mendadak riuh, dan ruang-ruang publik dipenuhi warga yang menanti azan magrib dengan caranya masing-masing.
Tradisi populer yang kita kenal sebagai ngabuburit ini sesungguhnya bukan sekadar jeda sebelum membatalkan puasa. Ia adalah peristiwa sosial yang mempertemukan kehangatan silaturahmi, harapan, dan denyut ekonomi rakyat dalam satu bentang waktu yang sama.
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), denyut itu terasa dengan ritme yang khas. Dari jantung Kota Mataram hingga pelosok Sumbawa, dari pesisir Taman Kota Giri Menang di Lombok Barat hingga keriuhan Pasar Senggol di Kota Bima, masyarakat sejenak menepi dari rutinitas demi merayakan penantian yang sarat makna sosial, ekonomi, budaya, hingga spiritual.
Kala senja menyapa, pantai-pantai mulai dipenuhi tawa keluarga dan obrolan ringan, terutama di Pantai Ampenan, Mataram. Di sini, ruang publik bertransformasi menjadi arena bersama yang mempertemukan lintas generasi dalam sebuah ritus sosial yang hangat di bawah semilir angin laut.
Aktivitas sederhana seperti memandang matahari tenggelam, berburu takjil di lapak pedagang kecil, hingga berbagi kisah harian menjadi bagian tak terpisahkan dari kanvas ngabuburit. Fenomena ini menegaskan bahwa menanti berbuka adalah ruang afirmasi bagi komunitas untuk saling menguatkan.
Suasana ini kian kental dengan kehadiran pasar Ramadhan yang menjamur di berbagai titik, seperti di Kota Bima, mulai dari Pasar Senggol hingga pelataran Masjid Agung Al Muwahiddin dan Jalan Anggrek yang selalu sesak oleh para pemburu kudapan.
Keberadaan pasar kaget menjelang magrib ini tak hanya memanjakan lidah dengan aneka kolak dan gorengan khas, tetapi juga menjadi napas buatan bagi pelaku UMKM untuk bergerak lebih produktif dan berdaya.
Salah satu wujud ekspresi komunitas yang kini populer di Lombok Barat adalah "Pesona Ramadhan Ngantik Bebuke", sebuah istilah lokal yang berarti menunggu berbuka, yang dipusatkan di Taman Kota Giri Menang, Gerung.
Kegiatan yang mengisi waktu sore hingga beduk bertalu ini menghadirkan perpaduan apik antara bazar UMKM, hiburan seni lokal, serta lantunan musik religi yang menyejukkan batin.
Inisiatif ini membuktikan bagaimana ruang terbuka kota mampu menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi religius dengan ekspresi kebudayaan lokal dalam balutan modernitas.
Namun, masifnya fenomena ini bukannya tanpa tantangan, terutama pada penataan ruang publik. Di Kota Mataram, pemerintah daerah harus bekerja ekstra memetakan titik-titik kepadatan, seperti di kawasan ACC Ampenan hingga pusat perbelanjaan, demi mengurai volume kendaraan yang melonjak tajam.
sumber : Antara

2 hours ago
3












































