Tauhid Sebagai Orientasi Seluruh Amal

2 hours ago 3

Image Kang Lahudin

Agama | 2026-02-21 01:06:27

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji hanya milik Allah SwT yang masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, teladan utama umat manusia.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani untuk menata kembali orientasi hidup kita. Banyak orang beramal, tetapi tidak semua amal bernilai di sisi Allah. Banyak aktivitas terlihat baik, tetapi tidak semuanya diterima sebagai ibadah. Pertanyaannya: apa yang menentukan nilai suatu amal ?

Jawabannya adalah tauhid. Tauhid bukan hanya pengakuan lisan bahwa Allah itu Esa, melainkan fondasi niat, arah tujuan, dan motivasi dalam setiap perbuatan.

1. Tauhid : Perintah Memurnikan Ibadah

Allah menegaskan dalam firman-Nya:

اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُۗ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang bersih (dari syirik).”(Al-Qur'an, QS. Az-Zumar: 2–3)

Ayat ini menegaskan bahwa inti ibadah adalah ikhlas, yaitu memurnikan seluruh pengabdian hanya untuk Allah. Shalat, puasa, zakat, dakwah, mengajar, bekerja, bahkan aktivitas sosial—semuanya harus berorientasi kepada-Nya.

Tanpa tauhid yang murni, amal berubah menjadi sekadar rutinitas atau sarana pencitraan.

2. Inti Seluruh Ajaran : Tauhid

Allah kembali menegaskan:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya ”(QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa sejak para nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad ﷺ, inti dakwah mereka adalah tauhid. Seluruh syariat berdiri di atas fondasi ini. Artinya, kualitas amal seseorang tidak diukur dari banyaknya, melainkan dari kemurnian tauhid yang melandasinya.

Ramadhan mengajarkan tauhid secara praktis. Saat berpuasa, kita menahan diri bukan karena manusia melihat, tetapi karena Allah mengetahui. Inilah latihan keikhlasan yang paling nyata.

Jama’ah yang dirahmati Allah

3. Ancaman Syirik dan Riya’ dalam Amal

Dalam sebuah hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa Allah berfirman:

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal lalu ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku dalam amal itu, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.”

Hadis ini memberi peringatan tegas: amal yang tercampur riya’, pencitraan, atau motif duniawi tidak akan diterima.

Riya’ adalah penyakit halus. Ia tidak selalu tampak dalam ucapan, tetapi tersembunyi dalam orientasi hati :

ü Beramal agar dipuji

ü Berdakwah agar dikenal

ü Bersedekah agar dihormati

ü Bekerja keras hanya demi popularitas

Tauhid menuntut kita meluruskan semua itu. Amal bukan untuk panggung manusia, tetapi untuk keridhaan Allah.

4. Tauhid Mengubah Aktivitas Dunia Menjadi Ibadah

Tauhid bukan hanya untuk masjid. Ia harus menjiwai rumah, kantor, sekolah, dan ruang publik.

Seorang guru yang mengajar dengan niat ibadah, seorang pedagang yang jujur karena Allah, seorang pemimpin yang amanah demi pertanggungjawaban di akhirat—semuanya sedang beribadah jika orientasinya tauhid.

Dengan tauhid:

Ø Bekerja menjadi ibadah

Ø Mendidik menjadi dakwah

Ø Mengabdi menjadi jalan menuju ridha Allah

Tanpa tauhid:

Ø Amal menjadi kosong makna

Ø Prestasi menjadi kesombongan

Ø Jabatan menjadi fitnah

Jama’ah yang dirahmati Allah

5. Ramadhan: Momentum Meluruskan Orientasi

Ramadhan adalah bulan evaluasi niat. Kita diuji dalam kesunyian. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa, kecuali Allah. Inilah latihan tauhid paling mendasar: beramal dalam pengawasan Ilahi, bukan dalam sorotan manusia.

Maka mari bertanya kepada diri sendiri:

ü Untuk siapa kita beramal?

ü Apa orientasi hidup kita?

ü Apakah tujuan kita akhirat atau sekadar dunia?

Tauhid menuntun kita menjadikan Allah sebagai pusat seluruh orientasi hidup.

Tauhid adalah ruh amal. Ia adalah kompas yang menentukan arah perjalanan hidup. Tanpa tauhid, amal kehilangan nilai. Dengan tauhid, amal sederhana pun menjadi agung.

Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum:

ü Memurnikan niat

ü Membersihkan hati dari riya’

ü Mengarahkan seluruh aktivitas hanya kepada Allah

Semoga setiap langkah, kerja, pengabdian, dan ibadah kita benar-benar bernilai di sisi-Nya, karena dibangun di atas tauhid yang murni.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |