REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di bulan Ramadan yang penuh berkah, ketika adzan maghrib semakin dekat dan hati-hati mulai merindu kehangatan buka puasa, Jakarta kembali menampilkan wajahnya yang paling hidup: deretan gerobak takjil berjejer di pinggir jalan, aroma kolak dan es campur menguar lembut, serta senyum pedagang yang menyambut pembeli dengan ramah. Di tengah hiruk-pikuk itu, muncul panggilan halus untuk menjaga tradisi sekaligus melangkah ke masa depan, dengan sentuhan digital yang semakin akrab.
Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto, mengajak para pelaku UMKM takjil untuk memperkuat transaksi berbasis digital. “Masyarakat sudah terbiasa dengan pembayaran nontunai,” ujarnya dengan nada penuh harap. QRIS, yang kini digunakan oleh 6,1 juta orang di Jakarta, naik 3,87 persen dari tahun sebelumnya, telah menjadi jembatan yang memudahkan pembeli dan penjual.
Jumlah merchant pun melonjak 13,90 persen menjadi 6,5 juta, dengan UMKM mendominasi 75,22 persen pengguna. Ramadan, menurut Wahyu, adalah momentum emas: bukan hanya untuk menjual takjil, melainkan untuk beradaptasi dengan pola perdagangan modern, memperluas jangkauan, dan menjaga perputaran ekonomi kerakyatan tetap hangat sepanjang bulan suci.
Anggota Komisi B lainnya, Muhammad Al Fatih, melihat lebih jauh. Baginya, bazar takjil bukan sekadar aktivitas musiman, melainkan potensi ikonik yang bisa menjadi ciri khas Jakarta. “Bayangkan jika bazar Ramadhan dikemas dengan konsep terstruktur: lokasi yang tertata rapi, produk berkualitas, fasilitas memadai, dan tentu saja digitalisasi yang kuat,” katanya.
Penataan seperti itu tidak hanya memberi kenyamanan bagi pengunjung, tetapi juga membuka peluang berkelanjutan bagi pelaku UMKM, agar keuntungan tak berhenti di akhir Ramadan, melainkan menjadi fondasi usaha yang lebih kokoh. Dengan digitalisasi, catatan keuangan lebih rapi, pasar lebih luas, dan daya saing pun terjaga, bahkan setelah lebaran tiba.
Namun, di balik semangat berbagi dan berdagang, ada kebutuhan untuk menjaga harmoni kota. Pemerintah Kota Jakarta Utara melalui Wali Kota Hendra Hidayat mengimbau pedagang takjil agar berjualan dengan tertib, tidak menduduki trotoar atau menimbulkan kemacetan.
“Kami tidak melarang berdagang, tapi mari kita jaga jalan umum agar tetap lancar,” pesannya lembut namun tegas.
Satpol PP DKI Jakarta pun mengambil langkah serupa dalam program Bulan Tertib Trotoar: menata, bukan melarang; mengatur agar pejalan kaki tetap nyaman dan lalu lintas tidak terhenti. Kebersamaan ini, pada hakikatnya, adalah wujud empati: pedagang ingin berbagi rezeki, pengendara ingin pulang cepat untuk berbuka, dan kota ingin tetap indah.
sumber : Antara

3 hours ago
6












































