Kenapa Orang Suka Foto Makanan Sebelum Makan?

2 hours ago 3

Image Diajeng Rizky Ramadhani

Lifestyle | 2026-09-02 00:49:43

Gambar: POV seseorang yang sedang memotret makanan sebelum dikonsumsi (Sumber: Ai)

Kedatangan makanan panas baru di meja kafe atau restoran secara alami diikuti oleh: keluarkan telepon genggam seketika, bidik ke arah pencahayaan, kamera mengarah tepat di atas piring. Foto cepatnya harus didapat sebelum sendok betulan menyentuh hidangan.

Bagi sebagian orang lain, kebiasaan ini dianggap mengganggu karena menghapus kehangatan momen dan membuat makanan mereka menjadi dingin. Bagi para penolak hidangan, apa pun istilah yang ingin kamu gunakan, memotret sebuah hidangan membentuk bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman itu sendiri.

Yang lantas menimbulkan pertanyaan: mengapa kebiasaan ini begitu berakar pada cara kita menjalani hidup saat ini?

1. Tindakan estetis yang menyiapkan diri untuk rasa antisipasi.

Dari sisi psikologis, manusia tidak hanya “hidup” lewat makanan melalui lidah dan hidung, tetapi juga melalui mata mereka. Menata piring agar mendapatkan cahaya yang bagus dan sudut foto yang paling tepat secara tidak langsung memperpanjang waktu menunggu sebelum makan.

Aktivitas memotret ini berfungsi sebagai semacam “doa atau ritual” modern. Dalam sekejap, ketika seseorang mengintip melalui lensa smartphone mereka untuk menangkap betapa cantiknya piring itu, energi mental mereka sepenuhnya mengarah pada makanan tersebut. Hasilnya, rasa makanan kita terasa lebih nikmat, karena persepsi indrawi telah aktif sejak awal.

2. Validasi Sosial dan Dorongan untuk Bertahan dalam Format Digital.

Sekarang, kamu bisa menyangkal sekeras apa pun yang kamu mau, tetapi media sosial telah mengubah cara kebanyakan orang mendefinisikan sebuah pengalaman. Mengunggah foto makanan di ranah digital bukan lagi sekadar cara untuk memberi tahu dunia apa yang mereka makanbitu mencerminkan ekspresi diri dan komunikasi sosial.
Terutama di lokasi-lokasi tertentu, foto hidangan yang estetis berkembang menjadi penanda gaya hidup, tempat-tempat baru yang dieksplor, atau sekadar cara untuk berkumpul dan mengobrol dengan teman-teman. Dan ada imbalan psikologis setelah foto dipublikasikan lewat persetujuan sosial dalam bentuk tombol suka dan bagian komentar.

3. Mengabadikan Sebuah Kenangan & Menandai Jejak Digital Kita

Bagi yang lain, galeri foto di perangkat seluler berfungsi sebagai jurnal visual. Makanan terlalu dekat kaitannya dengan beberapa kenangan sebagian tempat dan perasaan. Foto mi instan saat hujan, atau foto makan malam perayaan kita, kelak akan menjadi pemicu yang menggembirakan bagi kenangan di masa depan.
Ritual ini tidak selalu upaya untuk membuat orang lain memperhatikan kamu, melainkan usaha untuk mengabadikan sebuah momen agar bisa dikenang kembali di kemudian hari.

4. Boomerang Konten: Antara Dokumentasi dan Kehilangan Momen.

Terlalu sering mempraktikkan kebiasaan ini menimbulkan biaya yang melampaui kepuasan visual dan keberadaan digital. Begitu kamu beralih dari mendokumentasikan menjadi konten, atau ketika fokus berpindah dari sekadar menangkap momen, perhatian (mindfulness) sering kali ambruk.

Obrolan yang hangat dengan orang di sebelahmu berhenti, kehangatan makanan meredup, dan kepekaan untuk benar-benar merasakan cita rasa makananmu menjadi terabaikan. Di sinilah seseorang bergulat antara keinginan untuk membekukan momen lewat sebuah bidikan dan memilih membiarkan momen itu menelan kamu begitu saja.

Memotret makanan sebelum makan bukan sepenuhnya dianggap sebagai perilaku yang tidak pantas, dan juga bukan tindakan vulgar murni untuk pamer. Ini adalah transformasi budaya di era digital yang lebih lama memakan hidangan. Kuncinya ada pada keseimbangan: membiarkan kamera, sebagai perangkat pelapor yang mencatat kebahagiaan saat dibutuhkan, namun tanpa melepaskan bagian makanan yang kaya rasa dan kehangatan dalam interaksi di luar itu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |