Saham Syariah di Era Sekarang: Peluang Investasi Halal yang Makin Diminati

2 hours ago 3

Image fahma addien

Agama | 2026-09-02 11:22:58

Apa Itu Saham Syariah?

Saham syariah adalah saham perusahaan yang kegiatan usaha maupun cara pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Artinya, perusahaan tersebut tidak bergerak di bidang yang diharamkan, seperti riba (bunga bank konvensional), perjudian, minuman keras, produk berbahan babi, hiburan yang bertentangan dengan syariat, hingga jasa keuangan ribawi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa investasi saham memiliki dasar hukum yang kuat dalam perspektif syariah melalui berbagai fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Saham bukan bentuk perjudian, melainkan instrumen investasi kepemilikan yang sah, dengan catatan tetap membutuhkan pemahaman risiko yang memadai dari investor. Seluruh proses transaksi saham syariah juga didukung oleh Sharia Online Trading System (SOTS) yang memastikan mekanisme jual-beli berjalan sesuai kaidah syariah, bebas dari unsur riba, gharar (ketidakpastian), dan maysir (spekulasi murni).

Bagaimana Saham Disaring Menjadi "Syariah"?

Tidak semua saham otomatis dianggap syariah. Ada proses screening ketat yang dilakukan OJK bersama Dewan Syariah Nasional untuk menentukan mana saja emiten yang layak masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES). Penyaringan ini mencakup dua aspek utama:

  1. Aspek bisnis inti (core business) — perusahaan tidak boleh bergerak di sektor yang diharamkan.
  2. Aspek rasio keuangan — misalnya rasio utang berbasis bunga terhadap total aset, serta rasio pendapatan non-halal terhadap total pendapatan, harus berada di bawah ambang batas tertentu.

Daftar Efek Syariah ini diperbarui secara berkala oleh OJK, sehingga status syariah suatu saham bisa berubah dari waktu ke waktu mengikuti kondisi bisnis dan keuangan perusahaan.

Mengenal Dua Indeks Utama: JII dan ISSI

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), ada dua indeks acuan utama bagi investor saham syariah.

Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) adalah indeks komposit yang mencakup seluruh saham syariah yang tercatat di BEI, selama emiten tersebut masuk dalam Daftar Efek Syariah yang diterbitkan OJK. Indeks ini diluncurkan pada 2011 dan menjadi cerminan luas dari keseluruhan alam semesta saham syariah di pasar modal domestik.

Jakarta Islamic Index (JII), sebaliknya, jauh lebih selektif dan eksklusif. JII hanya memuat 30 saham syariah dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar paling tinggi di BEI. Diluncurkan sejak tahun 2000, JII menjadi benchmark utama bagi investor yang menginginkan portofolio syariah berisi saham-saham blue chip paling likuid. Sederhananya, JII merupakan bagian (subset) dari ISSI.

Komposisi kedua indeks ini tidak statis. BEI melakukan evaluasi mayor secara berkala, biasanya dua kali setahun, untuk menyesuaikan konstituen dan bobot saham di dalamnya mengikuti perubahan kinerja dan status syariah masing-masing emiten.

Dinamika Terkini: Rombak Besar Indeks Syariah 2026

Pasar modal syariah Indonesia baru saja mengalami perombakan besar. Pada evaluasi mayor periode Mei 2026, BEI memasukkan tujuh saham baru ke dalam JII, antara lain Alamtri Minerals Indonesia (ADMR), Archi Indonesia (ARCI), Sentul City (BKSL), Darma Henwa (DEWA), Energi Mega Persada (ENRG), Rukun Raharja (RAJA), dan Solusi Sinergi Digital (WIFI). Di saat yang sama, sejumlah saham dikeluarkan dari JII, termasuk salah satu emiten telekomunikasi besar, meski saham tersebut masih dipertahankan di indeks JII70 maupun ISSI. Perubahan ini berlaku efektif mulai 2 Juni hingga 30 November 2026.

Perubahan di ISSI bahkan lebih masif, dengan belasan saham masuk sebagai konstituen baru sementara puluhan saham lain dikeluarkan dari daftar. Pergeseran ini turut mengubah peta bobot saham unggulan syariah — saham sektor telekomunikasi yang sebelumnya mendominasi bobot indeks kini mengalami penurunan porsi, sementara saham-saham di sektor energi, pertambangan, dan digital justru mengalami kenaikan bobot yang signifikan. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi pasar terhadap sektor-sektor yang dianggap lebih prospektif ke depan.

Kondisi Pasar: Koreksi Dalam, tapi Valuasi Makin Menarik

Di sisi kinerja, tahun 2026 bukan tahun yang mudah bagi pasar saham syariah. Baik ISSI maupun JII tercatat mengalami koreksi tajam sepanjang tahun berjalan, seiring derasnya arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia — bahkan koreksi ini disebut lebih dalam dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum. Meski demikian, ada sejumlah sinyal positif di balik pelemahan tersebut: laba mayoritas emiten masih mencatatkan pertumbuhan, valuasi saham menjadi semakin murah, dan mulai muncul tanda-tanda aliran dana asing yang kembali masuk ke sektor perbankan besar pada akhir Juli 2026.

Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini justru sering dipandang sebagai peluang untuk mengakumulasi saham-saham fundamental kuat pada harga yang lebih murah, alih-alih panik menjual di tengah tekanan pasar.

Pertumbuhan Struktural yang Mengesankan

Terlepas dari fluktuasi harga jangka pendek, pertumbuhan struktural pasar modal syariah Indonesia sangat mengesankan dalam 15 tahun terakhir sejak ISSI diluncurkan:

  • Jumlah saham syariah melonjak dari 237 saham pada 2011 menjadi lebih dari 670 saham pada 2026, atau sekitar 70 persen dari total saham yang tercatat di BEI.
  • Kapitalisasi pasar ISSI naik lebih dari dua kali lipat, kini mencapai kisaran ratusan miliar dolar AS.
  • Berdasarkan data Anggota Bursa Penyedia Sistem Online Trading Syariah (AB-SOTS), jumlah investor saham syariah melonjak 158 persen, dari 85.891 investor pada 2020 menjadi 221.714 investor per Maret 2026.
  • Secara total, jumlah investor pasar modal Indonesia (seluruh instrumen) telah menembus sekitar 28,1 juta orang per pertengahan Mei 2026, dengan lebih dari separuhnya berasal dari kalangan usia di bawah 30 tahun — menandakan investasi syariah kini semakin akrab dengan generasi muda.

Momentum ini turut dirayakan lewat berbagai perhelatan seperti Sharia Investment Week dan rangkaian acara Elevate 2026 di Bursa Efek Indonesia, yang mempertemukan regulator, pelaku pasar, hingga investor global untuk memperkuat ekosistem pasar modal syariah nasional.

Kenapa Saham Syariah Layak Dilirik?

  1. Sesuai prinsip agama. Bagi umat Muslim, memastikan investasi bebas dari riba, gharar, dan maysir adalah bagian dari kehati-hatian dalam berinvestasi sekaligus menjalankan prinsip syariah.
  2. Dividen halal. Dividen yang berasal dari keuntungan usaha halal perusahaan syariah dinyatakan halal untuk diterima investor.
  3. Diversifikasi luas. Dengan lebih dari 670 saham dalam ISSI, investor punya banyak pilihan sektor untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi.
  4. Pengawasan ketat. Proses screening oleh OJK dan DSN-MUI membuat status syariah suatu saham lebih terjamin dan transparan.
  5. Ekosistem yang terus berkembang. Selain saham, tersedia pula instrumen syariah lain seperti reksa dana syariah, sukuk, dan exchange-traded fund (ETF) syariah, bahkan fitur sosial seperti wakaf saham dan zakat saham.

Cara Mulai Berinvestasi di Saham Syariah

Bagi pemula yang ingin memulai, berikut langkah umum yang bisa diikuti:

  1. Pilih sekuritas yang menyediakan layanan syariah, biasanya ditandai dengan fitur Syariah Online Trading System (SOTS) di aplikasinya.
  2. Buka rekening efek syariah dan lengkapi data sesuai persyaratan Bursa Efek Indonesia.
  3. Setor dana ke Rekening Dana Nasabah (RDN) melalui transfer bank sebagai modal awal transaksi.
  4. Cek status syariah saham yang ingin dibeli melalui Daftar Efek Syariah terbaru di situs resmi OJK atau BEI, karena status ini bisa berubah sewaktu-waktu.
  5. Lakukan transaksi secara spot (T+2), sesuai ketentuan syariah yang melarang transaksi dengan penyelesaian tertunda berlebihan (forward).
  6. Lakukan analisis fundamental sebelum membeli — status syariah tidak otomatis berarti valuasi saham tersebut menarik secara finansial.

Tips Membangun Portofolio Syariah yang Sehat

  • Rutin pantau Daftar Efek Syariah. Saham yang keluar dari daftar ini berarti sudah tidak lagi memenuhi kriteria syariah, sehingga perlu dievaluasi ulang kepemilikannya.
  • Waspadai risiko konsentrasi sektor. Karena JII cenderung didominasi saham-saham besar dari sektor tertentu, diversifikasi ke ISSI secara lebih luas atau ke reksa dana syariah bisa membantu menyeimbangkan portofolio.
  • Manfaatkan momentum koreksi pasar. Pelemahan harga saat ini bisa menjadi peluang akumulasi bagi investor dengan horizon jangka panjang, asalkan fundamental emiten tetap solid.
  • Ikuti perubahan komposisi indeks. Evaluasi mayor JII dan ISSI yang dilakukan BEI secara berkala penting dipantau karena bisa menjadi acuan arah rotasi sektor di pasar modal syariah.

Saham syariah di Indonesia telah bertransformasi dari sekadar alternatif investasi menjadi pilihan arus utama bagi masyarakat yang ingin berinvestasi secara halal, transparan, dan berkelanjutan. Meski pasar sempat mengalami koreksi tajam sepanjang 2026, pertumbuhan jangka panjang dari sisi jumlah saham, kapitalisasi pasar, hingga jumlah investor menunjukkan bahwa fondasi pasar modal syariah Indonesia semakin kokoh. Bagi siapa pun yang ingin berinvestasi sekaligus menjaga prinsip keuangan sesuai syariat, kini adalah waktu yang tepat untuk mulai memahami dan menjajaki dunia saham syariah — tentu dengan literasi yang cukup dan analisis yang matang sebelum mengambil keputusan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |