Agus Budiana
Eduaksi | 2026-09-02 11:32:26
Ilustrasi Generate AI
Rasanya, hampir setiap orang punya pengalaman yang sama belakangan ini: berita buruk lebih dulu mampir lewat grup WhatsApp keluarga atau story Instagram teman, jauh sebelum ada siaran resmi yang menjelaskannya.
Kereta bertabrakan, produk makanan ditarik dari pasaran, pejabat salah bicara di depan kamera semuanya kini sampai ke kita dalam hitungan menit, lengkap dengan video amatir, tangkapan layar, dan komentar bernada geram dari ribuan akun yang belum tentu tahu duduk perkaranya. Krisis tidak lagi menunggu jumpa pers. Ia meledak duluan, lalu organisasi baru menyusul menjelaskan.
Ironinya, banyak lembaga perusahaan, instansi pemerintah, bahkan figur publik masih menghadapi situasi ini dengan gaya lama: rapat lama, menunggu instruksi atasan, baru merilis pernyataan resmi yang kaku dan terlambat. Padahal di dunia yang bergerak secepat linimasa, keterlambatan itu sendiri sudah menjadi krisis baru.
Ketika Publik Bicara Duluan, Sebelum Organisasi Sempat Mengerti
Ada satu fenomena yang makin sering terjadi. publik membentuk opininya sendiri sebelum organisasi yang bersangkutan sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Bukan cerita fiksi ini terlihat jelas dalam kasus tabrakan kereta di Bekasi Timur pertengahan tahun ini, saat percakapan warganet soal insiden itu menembus puluhan ribu unggahan dan jutaan interaksi hanya dalam hitungan jam, jauh sebelum pihak berwenang menyusun keterangan resmi.
Fenomena ini bukan hal baru dalam ilmu komunikasi krisis, hanya saja skalanya berubah drastis. Kathleen Fearn-Banks lama menekankan bahwa satu jam pertama setelah krisis pecah yang lazim disebut golden hour adalah periode paling menentukan, saat organisasi punya kesempatan menyusun penjelasan awal dan mencegah narasi liar berkembang tanpa kendali.
Masalahnya, di era Fearn-Banks merumuskan gagasan itu, "satu jam" masih terasa cukup panjang. Sekarang, satu jam bisa berarti ribuan twit, ratusan video pendek, dan opini publik yang sudah mengeras jadi "kebenaran" versi mereka sendiri jauh sebelum tim humas selesai mengetik draf pertama.
Ini yang membuat banyak organisasi kalah bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka diam terlalu lama. Kita, sebagai warga digital biasa, sering melihat pola yang sama: sebuah insiden terjadi, netizen ramai berspekulasi, lalu baru belasan jam kemudian muncul rilis resmi yang isinya sudah basi orang-orang sudah lebih dulu percaya versi cerita yang beredar duluan di media sosial.
Bukan Soal Siapa yang Salah, tapi Soal Bagaimana Publik Merasa
Satu kesalahan umum yang sering dilakukan lembaga saat krisis adalah berpikir bahwa jika mereka tidak sepenuhnya bersalah, mereka tidak perlu buru-buru menjelaskan. Padahal, publik jarang menilai krisis semata dari fakta teknis mereka menilai dari perasaan yang muncul, marah, takut, atau merasa diabaikan.
Gagasan ini pernah dirumuskan dengan cukup jenaka oleh pakar komunikasi risiko Peter Sandman, yang menyatakan bahwa tingkat risiko yang dirasakan publik sesungguhnya adalah gabungan antara bahaya nyata dari suatu peristiwa dan kadar kemarahan atau kekesalan yang menyertainya.
Dengan kata lain, sebuah insiden kecil bisa terasa sangat besar di mata publik kalau ia dibungkus rasa dikhianati atau tidak dihargai, sementara insiden yang sebenarnya cukup serius bisa "diterima" dengan tenang kalau publik merasa didengar dan diperlakukan jujur.
Ini persis apa yang terjadi tiap kali sebuah brand kena "cancel" di media sosial. Coba perhatikan: yang bikin warganet naik pitam biasanya bukan semata soal produk cacat atau layanan buruk, tapi soal bagaimana brand itu meresponsnya defensif, menyalahkan pelanggan, atau malah menghapus komentar kritis.
Kemarahan yang tadinya kecil jadi membesar bukan karena masalahnya makin serius, melainkan karena caranya ditangani terasa arogan. Sebaliknya, permintaan maaf yang tulus dan cepat, meski masalahnya cukup besar, sering kali justru meredakan gelombang amarah lebih efektif daripada argumen teknis paling rapi sekalipun.
Merespons Bukan Sekadar Bicara, tapi Memilih Cara Bicara yang Tepat
Bagian yang sering luput dari perhatian adalah bahwa merespons krisis bukan cuma soal "cepat", tapi juga soal "cara". Terburu-buru mengeluarkan pernyataan tanpa strategi yang jelas justru bisa memperparah keadaan, apalagi kalau nada yang dipilih tidak sesuai dengan tingkat tanggung jawab yang sebenarnya dipikul organisasi.
Di titik inilah kerangka berpikir yang dirumuskan pakar hubungan masyarakat Timothy Coombs jadi relevan. Ia menekankan bahwa strategi merespons krisis semestinya disesuaikan dengan jenis krisisnya: apakah organisasi murni jadi korban keadaan (misalnya bencana alam), mengalami kecelakaan yang tak disengaja, atau justru bertanggung jawab penuh karena kelalaian.
Semakin besar tanggung jawab yang melekat, semakin organisasi perlu bersikap kooperatif, mengakui kesalahan, dan menunjukkan langkah perbaikan konkret bukan sekadar berkelit dengan bahasa formal yang terkesan cuci tangan.
Sayangnya, di keseharian kita, pola yang lebih sering muncul justru sebaliknya: pernyataan resmi yang penuh eufemisme, kata-kata seperti "kami turut prihatin" tanpa kejelasan siapa yang bertanggung jawab dan langkah apa yang akan diambil.
Publik zaman sekarang cukup jeli membedakan mana permintaan maaf yang tulus dan mana yang sekadar formalitas humas. Begitu pernyataan terasa dibuat-buat, tangkapan layarnya akan beredar lagi kali ini disertai olok-olok, dan krisis babak kedua pun dimulai.
Belajar Hidup dengan Kecepatan yang Tak Bisa Ditolak
Pada akhirnya, komunikasi krisis di era viral bukan tentang menguasai teknik humas paling canggih, melainkan tentang kejujuran menghadapi kenyataan baru: publik sudah tidak lagi menunggu izin untuk bicara.
Mereka bicara dengan atau tanpa kita. Organisasi, institusi, bahkan individu yang bijak memahami hal ini akan berhenti memperlakukan krisis sebagai sesuatu yang bisa "dikendalikan" sepenuhnya, dan mulai memperlakukannya sebagai percakapan yang harus mereka ikut masuk secepat, sejujur, dan setulus mungkin.
Dan barangkali, itulah pelajaran paling manusiawi dari semua teori komunikasi krisis, titik pointnya orang tidak mencari argumen yang sempurna. Mereka hanya ingin merasa didengar sebelum semuanya terlambat.
Agus Budiana : jurnalis, penulis dan pemerhati komunikasi digital. Karyanya dimuat di berbagai plaform media nasional dan mengangkat isu jurnalisme, media, AI, literasi digital, serta dinamika masyarakat informasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3












































