Maulid Nabi, Momentum Meneladani Perjuangan Rasulullah

2 hours ago 3

Image haura Insiyah

Agama | 2026-09-02 08:15:08

Oleh Nur Hasanah

Bulan Agustus kali ini bertepatan dengan Rabiul Awal. Banyak umat Islam memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan tersebut diisi dengan berbagai aktivitas, seperti memperbanyak shalawat, baik secara individu maupun bersama-sama, tabligh akbar, bahkan pawai. Begitulah umat Islam memperingatinya setiap tahun. Namun, substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional.

Pembahasan Maulid sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah sering kali hanya terbatas pada ittiba’ dalam meneladani akhlak beliau, tetapi belum menyentuh aspek fundamental, yaitu melepaskan diri dari penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu, serta kesadaran untuk mengubah sistem jahiliah kepada sistem Islam yang menegaskan bahwa penghambaan manusia hanya kepada Allah SWT.

Saat ini, sebenarnya banyak umat yang telah merasakan dan menyadari kerusakan di sekitarnya sehingga memunculkan tuntutan perubahan. Akan tetapi, arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah.

Padahal, Maulid seharusnya menjadi momentum pembuktian cinta kepada Rasulullah yang sesungguhnya, yaitu melahirkan keterikatan pada perjuangan beliau dalam melakukan syiar Islam. Maka, hari ini kita pun semestinya meneruskan perjuangan dengan mengemban dakwah Islam dan memastikan syariat Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Kita juga perlu menyadarkan umat bahwa hari ini kita masih lekat dengan penghambaan kepada selain Allah secara sistemik melalui ideologi kapitalisme, demokrasi, dan liberalisme. Kebebasan dijunjung tinggi sebagai hak individu, sementara materi dijadikan orientasi hidup mayoritas orang. Sistem kapitalisme tentu akan terus dipertahankan eksistensinya oleh pihak-pihak yang berkepentingan, bahkan suara kebangkitan Islam yang menuntut perubahan sistem dapat dibungkam dan diredam.

Maka, saat ini yang paling penting adalah mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan pada syariat dengan mengikuti metode perjuangan dakwah Rasulullah, bukan sekadar ritual rutin semata, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 31:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya:“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dengan diterapkannya sistem kapitalisme di negeri-negeri kaum Muslim saat ini, umat Islam dituntut untuk memperjuangkan penerapan syariat Islam secara menyeluruh melalui kepemimpinan Islam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.

Mengikuti metode dakwah Rasulullah ditempuh melalui tiga tahapan, yaitu pembinaan (tasqif), interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah), dan penerimaan kekuasaan (istilamul hukmi). Dengan metode inilah kehidupan Islam diyakini dapat tegak kembali sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin, sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Anbiya ayat 107:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya:“Dan Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |