RI Siap Guncang Dunia dengan Proyek 1.500 Kapal Tangkap Ikan

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas perairan mencapai 6,4 juta kilometer persegi, menjadikannya rumah bagi keanekaragaman hayati laut paling kaya di planet ini.

Laut Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang sangat masif, mulai dari cadangan perikanan tangkap yang diperkirakan melebihi 12 juta ton per tahun hingga kekayaan terumbu karang yang menjadi paru-paru samudera. Kekayaan ini bukan sekadar angka, melainkan aset strategis yang memposisikan Indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi maritim global, terutama di wilayah segitiga terumbu karang dunia.

Melimpahnya sumber daya ikan ini tersebar di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), menjadikannya lumbung protein yang tak terbatas jika dikelola dengan tepat. Kekayaan laut ini mencakup komoditas bernilai tinggi seperti tuna, tongkol, cakalang, hingga lobster dan udang yang permintaannya terus melonjak di pasar internasional.

Dengan mengoptimalkan pemanfaatan wilayah laut ini, Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pemimpin ekspor perikanan sekaligus memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Untuk menjangkau potensi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara resmi memulai pembangunan tahap awal dari total 1.582 kapal tangkap ikan mulai tahun 2026. Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa 1.000 unit di antaranya adalah kapal berkapasitas 30 Gross Ton (GT) yang akan didistribusikan ke Kampung Nelayan Merah Putih di seluruh Indonesia. Proyek ini dipastikan seratus persen menggunakan produksi dalam negeri dan akan terus berlanjut secara bertahap hingga tahun 2028.

Kapal berkapasitas 30 GT ini bukan sembarang armada; kapal seukuran ini diproyeksikan mampu menyumbang penghasilan yang sangat signifikan bagi para nelayan. Dengan daya jelajah yang lebih jauh hingga ke zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan kapasitas penyimpanan dingin (cold storage) yang lebih besar, satu unit kapal 30 GT diperkirakan dapat menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan dari hasil tangkapan ikan kualitas ekspor. Peningkatan kapasitas ini secara otomatis akan mengangkat derajat ekonomi nelayan tradisional menjadi pelaku usaha perikanan skala menengah yang mandiri.

Namun, kapal canggih membutuhkan awak yang mumpuni. KKP kini tengah gencar membekali para nelayan dan lulusan sekolah perikanan dengan kompetensi kelas dunia. Seorang awak kapal penangkap ikan modern wajib menguasai navigasi elektronik, teknik penangkapan ikan yang efisien, hingga standar keamanan laut internasional.

Selain itu, mereka harus ahli dalam menjaga kualitas hasil tangkapan di atas kapal (handling) agar nilai jual ikan tetap tinggi saat sampai di daratan, serta memiliki pemahaman tentang regulasi penangkapan ikan yang berkelanjutan.

Rencana besar ini telah mendapat sorotan dunia, termasuk dukungan penuh dari Pemerintah Inggris. Dalam pertemuan bilateral di London pada 20 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto mendapatkan komitmen dari Perdana Menteri Keir Starmer untuk mendukung investasi pembangunan 1.500 kapal ini.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |