Saat Sekolah Hancur Diterjang Banjir Bandang, Muhammadiyah Datang Membawa Harapan

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) terus membuktikan diri sebagai garda terdepan dalam misi kemanusiaan, menunjukkan komitmen tak tergoyahkan untuk memulihkan harapan di tengah reruntuhan bencana.

Memasuki Januari 2026, fokus MDMC tertuju pada pemulihan sektor pendidikan di Sumatera Barat, memastikan bahwa duka akibat bencana hidrometeorologi tidak boleh memadamkan semangat belajar generasi penerus bangsa. Dengan langkah nyata membangun puluhan ruang kelas darurat, Muhammadiyah tidak hanya menghadirkan struktur bangunan, tetapi juga membangun kembali fondasi masa depan anak-anak di wilayah terdampak.

Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan sangat tinggi terhadap bencana alam, terutama banjir bandang dan tanah longsor akibat topografi perbukitan dan curah hujan yang ekstrem. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga awal 2026, rangkaian bencana hidrometeorologi telah menghantam hebat beberapa titik krusial, seperti Kabupaten Agam, Padang Pariaman, hingga Tanah Datar. Bencana ini tidak hanya merusak lahan pertanian dan infrastruktur jalan, tetapi juga melumpuhkan fasilitas publik yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

Dampak paling nyata terlihat di Kabupaten Agam. Banjir bandang pada November 2025 menyebabkan kerusakan masif yang memaksa ribuan orang mengungsi dan puluhan fasilitas pendidikan hancur. Selain Agam, Kabupaten Padang Pariaman juga mencatatkan kerusakan infrastruktur pendidikan yang signifikan akibat luapan sungai besar yang melintasi pemukiman.

Di tengah kondisi geografis yang sulit, percepatan pemulihan menjadi tantangan berat bagi pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan untuk mengembalikan stabilitas sosial di wilayah-wilayah terdampak tersebut.

Kondisi sekolah-sekolah yang terdampak bencana tersebut sungguh memprihatinkan; bangunan utama mengalami rusak berat, dinding-dinding roboh dihantam material banjir, dan lumpur tebal menimbun ruang-ruang kelas hingga tidak mungkin lagi digunakan untuk aktivitas belajar mengajar.

Para siswa terpaksa mengungsi ke tenda-tenda darurat yang panas atau memadati ruang Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dengan fasilitas yang sangat terbatas demi tetap mendapatkan ilmu. Hilangnya ruang kelas yang aman tidak hanya mengganggu proses transfer ilmu, tetapi juga memberikan beban psikologis bagi siswa dan guru yang setiap hari harus berhadapan dengan sisa-sisa kehancuran sekolah mereka.

Menyikapi urgensi tersebut, MDMC Pusat kini tengah mengebut pembangunan 23 unit lokal sementara yang tersebar di beberapa titik di Kabupaten Agam, seperti di Kecamatan Tanjung Raya dan Palembayan. Penanggungjawab Pembangunan, Dedi, mengungkapkan bahwa pengerjaan yang menggunakan material baja ringan ini ditargetkan selesai pada 2 Februari 2026. Proyek ini mencakup pembangunan enam unit di Bancah untuk SDN 09 Bancah, tujuh unit di Labuah untuk SDN 14 Labuah dan TK, serta sepuluh unit di Kayu Pasak untuk MTs, SMA, TK, dan PAUD Muhammadiyah.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |