REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peternak adalah pahlawan sunyi yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan sekaligus mesin penggerak ekonomi di akar rumput. Di tangan mereka, potensi lahan desa yang luas diubah menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, dan menekan laju urbanisasi.
Memasuki tahun 2026, peran mereka semakin strategis seiring dengan langkah Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) yang berkomitmen membangkitkan ekosistem peternakan desa sebagai motor utama kesejahteraan masyarakat setempat.
Jasa besar peternak dalam meningkatkan kesejahteraan desa terlihat dari kemampuannya menciptakan siklus ekonomi yang mandiri dan inklusif. Kehadiran unit peternakan di desa tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga memicu pertumbuhan sektor pendukung seperti penyedia pakan, jasa transportasi, hingga pengolahan pupuk organik.
Dengan perputaran uang yang tetap berada di lingkup lokal, peternak membantu memperkuat daya beli masyarakat desa dan secara langsung berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan di daerah tertinggal.
Guna memaksimalkan potensi ini, Menteri Desa PDT Yandri Susanto menggandeng Kurma Adzwa Farm untuk membangun ekosistem peternakan domba modern yang ramah lingkungan. Salah satu terobosan strategisnya adalah mengirimkan pemuda desa untuk belajar langsung ke Jepang guna menyerap ilmu peternakan tingkat lanjut. Langkah ini sejalan dengan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pemuda untuk kembali ke desa dan membangun tanah kelahiran mereka dengan keahlian bertaraf internasional.
Jepang dipilih sebagai kiblat karena keunggulannya dalam mengintegrasikan teknologi presisi dengan efisiensi sumber daya yang luar biasa. Di Jepang, peternakan dikelola dengan sistem otomatisasi dan pemantauan kesehatan ternak berbasis data, sehingga mampu menghasilkan produk berkualitas premium seperti daging wagyu yang mendunia meski di atas lahan yang terbatas. Kedisiplinan dalam menjaga sanitasi dan standar pakan di Jepang menjadi tolok ukur global yang ingin diadaptasi oleh pemerintah Indonesia.
Selain teknologi, Jepang unggul dalam konsep peternakan berkelanjutan melalui sistem ekonomi sirkular, di mana limbah ternak diolah secara sempurna menjadi energi atau nutrisi bagi sektor pertanian. Dengan mengirimkan remaja desa untuk magang di Jepang, pemerintah berharap mereka pulang membawa mentalitas kerja profesional dan kemampuan teknis untuk membangun sistem peternakan modern yang ramah lingkungan. Kolaborasi ini akan diresmikan melalui MoU yang memastikan adanya pendampingan dan pemberdayaan berkelanjutan bagi para peternak lokal.
Pemerintah menaruh harapan besar agar para peternak ini mampu bertransformasi dari sekadar pemelihara hewan menjadi pengusaha tani yang kompetitif dan melek teknologi. Melalui program kolaborasi yang dimulai dari Banten dan Jawa Barat ini, pemerintah ingin menciptakan desa-desa mandiri yang memiliki ketahanan pangan kuat dan mampu memasok kebutuhan protein nasional secara stabil. Peternak diharapkan menjadi aktor kunci dalam mewujudkan swasembada pangan yang menjadi prioritas negara.
Lebih jauh, pemerintah berharap regenerasi petani dan peternak berjalan mulus melalui gerakan "Pemuda Pulang ke Desa". Dengan adanya dukungan modal yang disertai pendampingan ketat, peternak desa diharapkan mampu mereplikasi kesuksesan pengelolaan ternak modern di seluruh pelosok Indonesia. Visi besarnya adalah mengubah citra peternakan desa menjadi sektor bisnis menjanjikan yang mampu membawa kemakmuran nyata bagi setiap keluarga di pedesaan.
sumber : Antara

2 hours ago
3













































