Kerugian Akibat Banjir di Pati Diperkirakan Lampaui Rp 25 Miliar

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID,PATI -- Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengungkapkan, kerugian materiel akibat banjir yang sudah berlangsung selama lebih dari dua pekan di wilayah tersebut diperkirakan melampaui Rp 25 miliar. Dia mengatakan, nilai pasti kerugian akan dihitung ketika banjir telah sepenuhnya surut. 

"Kalau kerugian total, baik itu sawah yang dinyatakan puso, kemudian areal tambak yang luasnya mencapai lebih dari 1.700 hektare, lalu infrastruktur jalan, jembatan yang rusak, itu memang besar sekali angkanya. Saya hanya bisa menyebutkan globalnya, itu sampai lebih dari Rp25 miliar," ungkap Martinus kepada Republika, Senin (26/1/2026). 

Dia menambahkan, nantinya nilai kerugian materiel pasti dihitung setelah masa tanggap darurat bencana usai. "Nanti ketika kita sudah masuk masa transisi, akan diterjunkan tim pengkajian kebutuhan pascabencana. Tim itulah yang akan menghitung lebih detail, lebih pasti, berapa nilai kerugian," ujarnya. 

Pemkab Pati sebelumnya telah menetapkan masa tanggap darurat bencana yang berlangsung pada 9-23 Januari 2026. Namun karena banjir belum surut, Plt Bupati Pati memutuskan memperpanjang masa tanggap darurat selama dua pekan hingga 6 Februari 2026. 

"Dasar pertimbangan Pak Bupati adalah bahwa pada sampai akhir tanggal 23 Januari ternyata masih banyak desa dan kecamatan yang perlu diatensi lebih terkait dengan musibah bencana banjir ini, tersebar di 52 desa dan tujuh kecamatan," ungkap Martinus. 

Dia menerangkan, perpanjangan masa tanggap darurat diperlukan agar para organisasi perangkat daerah (OPD) lebih fokus dalam menangani banjir di Pati. "Terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terkena banjir," ujarnya. 

Martinus mengatakan, enam kecamatan yang terdampak banjir Pati berada di tepi aliran Sungai Juwana, yakni Kecamatan Sukolilo, Kayen, Gabus, Pati, Jakenan, dan Juwana. "Sementara satu kecamatan di utara yang masih terdampak itu di Dukuhseti," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, sebanyak 17.544 keluarga terdampak banjir di Pati. Kendati demikian, sebagian besar dari mereka lebih memilih bertahan di rumahnya masing-masing dibandingkan mengungsi. Menurut Martinus, hanya terdapat dua posko pengungsian untuk warga, yakni di Desa Doropayung dan Desa Bumirejo di Kecamatan Juwana. 

Martinus menyebut, saat ini banjir berangsur surut. "Kalau di daerah permukiman hampir habis airnya. Kalaupun masih ada genangan, tingginya sekitar 10-20 sentimeter. Tapi kalau di areal persawahan masih tinggi airnya," ujarnya. 

Menurut Martinus, selain faktor curah hujan, lamanya banjir di wilayah Pati turut dipengaruhi aliran air sungai dari daerah hulu. "Banjir di Pati ini tidak hanya dipengaruhi hujan yang turun dari Pati, tapi juga yang turun di daerah Muria Timur maupun yang ada di Kendeng. Kalau di sana curah hujannya masih tinggi, tetap akan berpengaruh ke wilayah Pati karena akan menyebabkan muka air Sungai Juwana tinggi," ucapnya. 

Martinus mengatakan, saat ini pasokan bantuan untuk kebutuhan dasar warga terus didistribusikan. Hal itu menjadi fokus penanganan Pemkab Pati. Pemerintah pusat, melalui BNPB, Kementerian Sosial, Bulog, dan Badan Pangan Nasional, turut mengirimkan bantuan untuk warga.

Read Entire Article
Politics | | | |