Dari Literasi Digital Menuju Kedaulatan Berpikir di Zaman AI

2 hours ago 5

Ilustrasi artificial intelligence (AI).

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Peradaban manusia tidak tumbuh karena manusia mengerjakan semuanya sendiri. Ia tumbuh justru karena manusia terus menemukan cara untuk memindahkan sebagian bebannya kepada sesuatu di luar dirinya.

Ketika tulisan ditemukan, manusia tidak lagi harus menyimpan seluruh ingatan di kepalanya. Ketika buku lahir, pengetahuan dapat hidup lebih lama daripada pemiliknya. Kalkulator mengambil sebagian pekerjaan berhitung.

Mesin pencari memperluas ingatan kita hingga hampir tak berbatas. GPS membuat seseorang dapat menembus kota yang sama sekali asing tanpa pernah menghafal petanya.

Setiap lompatan teknologi pada dasarnya adalah kisah tentang manusia yang menyerahkan sebagian pekerjaannya kepada alat, lalu menggunakan kapasitas yang terbebaskan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih tinggi.

Karena itu, tidak masuk akal apabila kedatangan artificial intelligence dijawab dengan romantisme bahwa manusia seharusnya kembali mengerjakan semuanya sendiri.

AI memang seharusnya membantu kita.

Ia dapat membaca lebih cepat, membandingkan lebih banyak dokumen, menemukan pola dari data yang terlalu besar bagi mata manusia, menerjemahkan bahasa, menulis kode, mengorganisasi informasi, menawarkan alternatif, bahkan membantu menemukan pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Penelitian pun menunjukkan bahwa penggunaan generative AI dalam sejumlah pekerjaan dapat meningkatkan produktivitas dan mengubah pembagian kerja antara manusia dan mesin.

Tetapi AI membawa satu perubahan yang tidak sepenuhnya sama dengan teknologi sebelumnya.

Kalkulator membantu manusia menghitung. Mesin pencari membantu manusia menemukan. Generative AI mulai membantu manusia merumuskan apa yang harus dipikirkan. Dan di situlah persoalannya berubah.

Sebab ketika sebuah teknologi mulai memasuki wilayah pembentukan pikiran, pertanyaan kita tidak lagi sebatas seberapa banyak pekerjaan yang dapat diserahkan kepadanya.

Pertanyaannya menjadi jauh lebih mendasar: setelah begitu banyak kemampuan dapat kita alihdayakan kepada mesin, bagian mana dari proses berpikir yang masih harus tetap menjadi milik manusia?

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |