REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akses terhadap layanan kesehatan gigi dan mulut yang layak semestinya dapat dirasakan oleh setiap anak, termasuk anak penyandang disabilitas. Hal tersebut menjadi perhatian Yayasan Nurul Misha Devya yang menggelar bakti sosial penyuluhan, pemeriksaan, dan perawatan kesehatan gigi bagi anak berkebutuhan khusus di SLB A Negeri Pembina, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan bertema “Beauty Beyond Vision: Empowering Every Smile” tersebut menyasar sekitar 300 anak penyandang disabilitas serta melibatkan sekitar 50 orang tua, pendamping, dan guru. Selain memberikan pelayanan kesehatan gigi secara langsung, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi mengenai cara menjaga kesehatan gigi dan mulut dalam kehidupan sehari-hari.
Devya Lidya mengatakan, setiap anak berhak memperoleh kesempatan dan fasilitas kesehatan yang sama, tanpa melihat kondisi maupun latar belakangnya. Menurut dia, anak penyandang disabilitas juga merupakan bagian dari generasi penerus bangsa yang perlu mendapat perhatian, termasuk dalam aspek kesehatan.
“Siapa pun harus mendapatkan kesempatan dan fasilitas kesehatan yang sama, baik yang sehat maupun yang memiliki disabilitas,” ujar Devya.
Ia mengatakan, keputusan untuk menyasar anak penyandang disabilitas dalam kegiatan tahun ini merupakan bagian dari upaya memberikan perhatian yang lebih luas kepada anak-anak. Sejak 2019, kegiatan sosial yang dilakukannya setiap tahun memiliki sasaran dan tema yang berbeda dengan fokus pada anak-anak dan generasi muda.
Menurut Devya, kesehatan menjadi salah satu fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, anak penyandang disabilitas juga perlu mendapatkan dukungan yang memadai agar memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berkembang.
“Ini kesempatan buat saya untuk memberikan fasilitas yang sama buat anak-anak disabilitas. Mereka adalah anak bangsa Indonesia yang perlu kita beri fasilitas dan semangat supaya mereka juga punya masa depan yang besar,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, pelayanan tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kondisi gigi. Peserta juga mendapatkan penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut, termasuk melalui alat bantu edukasi yang disesuaikan bagi anak tunanetra.
Demonstrasi cara menyikat gigi yang benar juga diberikan sebagai bagian dari edukasi preventif. Peserta yang membutuhkan mendapatkan perawatan gigi sederhana sesuai indikasi, sementara kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut diarahkan untuk mendapatkan rujukan.
Orang tua, guru, dan pendamping turut dilibatkan melalui konsultasi kesehatan gigi. Pelibatan mereka dinilai penting karena perawatan kesehatan gigi anak tidak berhenti ketika kegiatan pemeriksaan selesai, tetapi perlu dilanjutkan melalui kebiasaan sehari-hari di rumah maupun lingkungan sekolah.
Devya juga mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan kesehatan gigi. Menurut dia, menjaga kebersihan gigi perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, terutama menyikat gigi dengan cara dan waktu yang tepat.
“Mulai dari kesehatan gigi. Cara menyikat gigi adalah salah satu hal paling awal dalam menjaga kesehatan gigi dengan baik dan benar,” ujarnya.
Ia menilai kebiasaan menjaga kebersihan gigi perlu dibangun sejak anak-anak. Pemeriksaan secara berkala juga diperlukan untuk mengetahui kondisi gigi dan mulut sehingga persoalan kesehatan dapat ditangani lebih awal.
Kegiatan bakti sosial tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke-17 Nabila Misha dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejumlah tamu undangan turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ida Rachmawati, Cynthia Ganesha, Hetty Andika Perkasa, serta Adinda Yuanita.
Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Nurul Misha Devya berharap perhatian terhadap kesehatan gigi dan mulut anak penyandang disabilitas dapat terus diperluas. Kesetaraan akses kesehatan dinilai tidak hanya berarti tersedianya fasilitas pelayanan, tetapi juga memastikan layanan tersebut dapat diterima sesuai kebutuhan setiap anak.

3 hours ago
4
















































