Melihat Manusia secara Utuh dalam Pekerjaan Sosial

3 hours ago 4

Image Marfuah Rangkuti

Pendidikan dan Literasi | 2026-08-28 22:57:34

https://share.google/muJ5CHTl9IqlQqQwR

Manusia tidak berdiri sendiri

Pendekatan psikososial, yang dirumuskan Florence Hollis (1964), mengajarkan bahwa kondisi psikologis seseorang selalu berkaitan dengan lingkungan sosialnya, mulai dari keluarga, teman, budaya, hingga kondisi ekonomi. Karena itu, ketika seseorang bermasalah, pekerja sosial tidak cukup bertanya "apa yang salah dengan orang ini", tapi juga "apa yang terjadi di sekitarnya".

Di lapangan, saya melihat sendiri bahwa masalah individu jarang berdiri sendiri. Bisa jadi ada relasi keluarga yang tidak mendukung, atau akses sumber daya yang terbatas. Di sinilah legacy pendekatan psikososial: mengajarkan kita untuk tidak memisahkan manusia dari lingkungan kehidupannya.

Perilaku bisa berubah, kalau lingkungannya mendukung

Berbeda dari psikososial, pendekatan behavioristik, yang berakar dari pemikiran B.F. Skinner (1953) dan diperkaya Albert Bandura (1977), menekankan bahwa perilaku terbentuk lewat lingkungan dan pengalaman belajar, dan karena itu bisa diubah.

Dalam pendampingan, niat untuk berubah saja sering belum cukup. Seseorang butuh lingkungan dan kesempatan untuk membentuk kebiasaan baru. Karena itu, mendorong perubahan tidak cukup dengan meminta orang berubah sendirian. Kita juga perlu bertanya, sudahkah lingkungan di sekitarnya memberi ruang untuk itu?

Manusia bukan sekadar kumpulan masalah

Pendekatan humanistik, dengan tokoh utamanya Carl Rogers (1961), memberi penekanan yang menurut saya paling menguatkan: manusia punya martabat, kebebasan, dan potensi untuk terus berkembang.

Dalam pekerjaan sosial, cara pandang ini penting karena proses "membantu" bisa dengan mudah berubah menjadi proses "mengatur", jika orang yang didampingi tidak dilibatkan dalam menentukan apa yang sebenarnya ia butuhkan. Nilai inilah yang oleh Kode Etik NASW (2021) disebut self-determination, hak individu untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Membantu, dengan begitu, bukan berarti mengambil alih kehidupan seseorang, melainkan menciptakan ruang agar ia bisa kembali mengenali dirinya dan bertumbuh.

Tiga kacamata, satu manusia

Ketiga pendekatan ini sebenarnya saling melengkapi. Psikososial mengajarkan saya melihat konteks. Behavioristik mengajarkan saya memahami proses perubahan. Humanistik mengingatkan saya untuk tetap menghargai martabat dan potensi manusia.

Karena itu, kita perlu berhati-hati sebelum cepat memberi label "malas", "sulit diatur", atau "tidak peduli" pada seseorang. Bisa jadi ada cerita yang tidak kita ketahui, lingkungan yang tidak mendukung, atau potensi yang belum menemukan ruang untuk berkembang.

Dari psikologi menuju kepedulian yang lebih luas

Sebagai lulusan psikologi yang kini mendalami ilmu kesejahteraan sosial, saya merasa perjalanan ini memperluas cara saya memahami manusia. Psikologi mengenalkan saya pada proses mental dan perilaku individu. Tapi ketika terjun ke sektor sosial, saya belajar bahwa manusia juga dibentuk oleh keluarga, komunitas, kebijakan, dan ketimpangan akses yang tidak selalu sama bagi semua orang.

Saya juga belajar bahwa keinginan untuk membantu perlu diikuti kemampuan mendengarkan. Program atau solusi yang menurut kita baik, belum tentu itulah yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat.

Melihat manusia secara utuh

Pada akhirnya, mendampingi manusia tidak sesederhana memperbaiki sesuatu yang dianggap "bermasalah". Ada manusia yang perlu dipahami, perilaku yang mungkin perlu berubah, lingkungan yang mungkin perlu diperbaiki, dan potensi yang belum mendapat ruang untuk tumbuh.

Mungkin, pertanyaan terpenting bukan hanya "apa masalah yang sedang dihadapi seseorang", tapi juga "siapa manusia di balik masalah itu, dan bagaimana kita bisa mendampinginya untuk bertumbuh?" Karena ketika kita mampu melihat manusia secara utuh, di situlah proses membantu benar-benar dimulai.

Referensi

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

Hollis, F. (1964). Casework: A Psychosocial Therapy. New York: Random House.

National Association of Social Workers. (2021). Code of Ethics of the National Association of Social Workers. Washington, DC: NASW Press.

Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person: A Therapist's View of Psychotherapy. Boston: Houghton Mifflin.

Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior. New York: Macmillan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |