Film Jalan Pulang Maknai Kebaya Sebagai Saksi Perjalanan Hidup

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hari Kebaya Nasional diperingati setiap tanggal 24 Juli. Setiap helai kain tradisional selalu punya cara tersendiri untuk bercerita.

Kebaya bukan sekadar tampil sebagai busana peninggalan masa lalu, melainkan hadir sebagai identitas budaya Indonesia yang penuh makna, sejarah, serta ikatan emosional lintas generasi. Setelah meluncurkan gerakan Kebaya Kala Kini pada 2024 dan kampanye #KitaBerkebaya pada 2025, tahun ini Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan karya sinematik terbaru berupa film pendek berjudul Jalan Pulang.

Karya ini sudah bisa ditonton di kanal YouTube Indonesia Kaya mulai 24 Juli 2026. Kalau diperhatikan, ada yang bikin Jalan Pulang terasa berbeda dari dua karya pendahulunya. Kali ini, narasi yang diangkat jauh lebih personal, menyentuh, dan dekat dengan lika-liku kehidupan anak muda zaman sekarang.

Film ini mengajak kita semua untuk melihat kebaya bukan sekadar outfit formal untuk acara resmi semata, melainkan sebagai sebuah benang merah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Kebaya menjadi simbol hangat tentang rumah, dekapan keluarga, hingga silsilah asal-usul yang kerap kali terlupakan di tengah riuhnya kehidupan modern.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan selama tiga tahun terakhir, pihaknya terus mengajak masyarakat melihat kebaya dari berbagai sudut pandang. “Jika sebelumnya kami mengangkat kebaya sebagai ekspresi diri dan identitas budaya yang hidup, melalui Jalan Pulang kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa setiap kebaya menyimpan kisah yang layak diteruskan. Kebaya bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tetapi juga membawa jejak keluarga, kenangan, nilai, dan perjalanan hidup yang membentuk siapa diri kita hari ini. Karena itu, merawat kebaya berarti juga merawat memori dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Kamis (23/7/2026).

Renitasari berharap Jalan Pulang menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya hidup di museum atau dalam buku sejarah, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam cerita keluarga, dan dalam kebaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Sebab setiap kebaya punya cerita, dan setiap cerita layak untuk diteruskan," kata dia.

Secara jalan cerita, Jalan Pulang menyoroti perjalanan emosional seorang anak muda bernama Dara. Sebagai seorang creative director muda dengan ambisi besar, Dara mendapat kesempatan emas untuk me-rebranding rumah mode kebaya legendaris milik Madame Yati. Namun perjalanan kariernya tidak berjalan mulus.

Ketika berbagai ide dan gagasan modern yang ia sodorkan justru ditolak, Dara mulai berada di titik kritis dan mempertanyakan cara pandangnya sendiri terhadap makna kebaya yang sebenarnya. Rasa buntu dan pencarian makna itu akhirnya membawa Dara melangkahkan kaki kembali ke rumah sang ibu.

Di sana, di antara tumpukan kebaya-kebaya lama yang sejatinya sudah bersiap untuk disumbangkan, Dara justru menemukan kembali kepingan kenangan, kehangatan kasih sayang, serta jejak perjalanan panjang keluarganya.

Momen tak terduga inilah yang membalikkan sudut pandangnya secara drastis. Dara sadar betul bahwa sehelai kebaya ternyata menyimpan memori mendalam yang mampu melintasi waktu.

Read Entire Article
Politics | | | |