Recovery Olahraga tak Kunjung Pulih? Dokter Jelaskan Penyebab dan Peran Terapi Radiofrekuensi

2 hours ago 5

Teknologi INDIBA atau terapi berbasis radiofrequency 448 kHz kerap dimanfaatkan untuk kebutuhan pemulihan pascaolahraga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasa pegal, otot kaku, hingga pemulihan yang berlangsung lama setelah berolahraga sering dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, menurut dokter spesialis kedokteran olahraga, kondisi tersebut bisa menjadi pertanda bahwa proses pemulihan jaringan tubuh belum berjalan optimal.

Spesialis Kedokteran Olahraga di Seraphim Medical Center, dr Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.KO, menjelaskan, setiap aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat menyebabkan robekan mikroskopis pada serat otot. Proses perbaikan jaringan inilah yang membuat otot menjadi lebih kuat.

Namun, pemulihan dapat berlangsung lebih lama apabila sirkulasi darah kurang optimal, terjadi peradangan berulang, atau tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan regenerasi jaringan.

"Recovery yang efektif adalah recovery yang aktif, yaitu membantu tubuh menyelesaikan proses biologisnya lebih cepat dan lebih tuntas," kata dr Nahum dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, pemulihan setelah olahraga tidak hanya bergantung pada istirahat, tetapi juga dipengaruhi asupan nutrisi, hidrasi, kualitas tidur, serta kondisi jaringan tubuh. Jika salah satu faktor tersebut terganggu, keluhan seperti nyeri otot berkepanjangan dan kekakuan dapat terus berulang.

Salah satu teknologi yang kini dimanfaatkan dalam kedokteran olahraga adalah terapi radiofrekuensi Indiba Activ Therapy. Terapi noninvasif ini menggunakan energi radiofrekuensi 448 kHz yang ditujukan untuk menstimulasi jaringan lebih dalam tanpa menimbulkan panas berlebih pada permukaan kulit.

Menurut dr Nahum, stimulasi tersebut membantu meningkatkan sirkulasi darah, mempercepat metabolisme sel, dan mendukung proses regenerasi jaringan sehingga pemulihan otot dapat berlangsung lebih optimal.

"INDIBA tidak hanya bekerja di permukaan. Energinya masuk ke lapisan jaringan yang lebih dalam, seperti otot, tendon, sendi, hingga tulang, untuk mendukung proses biologis alami tubuh," ujarnya.

Read Entire Article
Politics | | | |