Rupiah Melemah ke Rp 17.979 per Dolar AS, Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Tekanan

1 hour ago 5

Karyawan menghitung uang dollar di money changer PT Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) pagi melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp 17.979 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.936 per dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) pagi melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp 17.979 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.936 per dolar AS. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan rupiah.

"Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus 95 dolar AS per barel sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah," ujar Josua di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, lonjakan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit, yakni defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan yang terjadi secara bersamaan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi melemahkan sentimen investor terhadap rupiah.

Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah terjadi serangan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran energi strategis dunia.

Gangguan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran kapal tanker minyak harus mengalihkan rute melalui Afrika bagian selatan, sehingga berpotensi mengganggu perdagangan global dan rantai pasok energi.

Peningkatan ketidakpastian geopolitik serta lonjakan harga minyak turut memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

"Untuk hari ini, kami memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.025 per dolar AS, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang masih menopang permintaan terhadap aset-aset safe haven," kata Josua.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Politics | | | |