REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bayangkan sebuah dunia yang seketika berubah menjadi putih pekat, di mana jarak pandang lenyap dalam hitungan detik dan suhu ekstrem menusuk hingga ke tulang.
Badai salju bukan sekadar fenomena alam yang indah dipandang, melainkan kekuatan destruktif yang mampu melumpuhkan peradaban modern dalam sekejap. Di Hokkaido, Jepang, amukan badai salju pada Januari 2026 ini membuktikan betapa mengerikannya "tembok es" yang turun dari langit; ia menjebak ribuan orang di bandara, memutus urat nadi transportasi, dan memaksa manusia tunduk pada kehendak alam yang tak kenal ampun.
Pembatalan 56 penerbangan dalam satu hari akibat badai ini menimbulkan dampak ekonomi yang sangat masif. Secara materi, prediksi kerugian dapat mencapai jutaan dolar AS yang mencakup pengembalian tiket (refund), biaya kompensasi akomodasi bagi penumpang yang terlantar, serta hilangnya pendapatan potensial dari kargo udara. Selain itu, maskapai penerbangan harus menanggung beban operasional ekstra untuk pengaturan ulang jadwal kru dan perawatan pesawat yang terpapar suhu ekstrem.
Kerugian tersebut belum termasuk biaya opportunity cost bagi ribuan penumpang yang kehilangan waktu kerja berharga atau kontrak bisnis penting. Bagi pengelola bandara dan maskapai, pembatalan massal seperti ini juga berdampak pada membengkaknya biaya logistik untuk pembersihan landasan pacu secara terus-menerus menggunakan alat berat dan bahan kimia pengurai es (de-icing). Dalam skala industri, gangguan sebesar ini menciptakan efek domino yang merusak efisiensi operasional penerbangan internasional di wilayah Asia Timur.
Kondisi di darat pun tidak kalah mencekam, di mana tumpukan salju setinggi 54 centimeter dalam waktu hanya 24 jam telah melumpuhkan Sapporo sepenuhnya. Ketebalan salju yang merupakan rekor tertinggi sepanjang Januari ini mengakibatkan tertutupnya akses jalan raya, tertimbunnya kendaraan di tempat parkir, hingga risiko runtuhnya atap bangunan yang tak kuat menahan beban es yang sangat berat. Aktivitas warga lumpuh total karena trotoar dan jalur utama menjadi medan yang mustahil ditembus tanpa peralatan khusus.
Layanan kereta api pun ikut tumbang, dengan lebih dari 500 perjalanan dibatalkan oleh JR Hokkaido, berdampak pada 130.000 penumpang yang terkatung-katung. Di Stasiun Sapporo, sebuah jalur bawah tanah terpaksa dibuka semalaman menjadi tempat perlindungan darurat bagi 340 warga yang kehilangan akses pulang. Sementara itu, sekitar 7.000 orang harus bermalam di lantai Bandara New Chitose dengan fasilitas seadanya, menunggu kepastian di tengah deru angin dan salju yang tak kunjung reda.
Di tengah kekacauan tersebut, sebuah drama penyelamatan terjadi di Prefektur Aomori ketika delapan pengendara kendaraan salju dilaporkan hilang di pegunungan Hirakawa. Setelah komunikasi sempat terputus, mereka akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat pada Senin pagi (26/1) pukul 09:40 setelah sempat terjebak di sebuah peternakan.
Meskipun tidak ada korban jiwa atau luka serius, insiden ini menjadi pengingat keras betapa tipisnya batas antara hobi dan maut ketika badai salju bersejarah melanda Jepang di awal tahun 2026 ini.
sumber : Antara

2 hours ago
2











































