Sinema Inklusi Nusantara, Berdayakan Difabel di Dunia Perfilman Lewat Pendekatan Neurosains

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Happyself Harmony Family memperkenalkan Sinema Inklusi Nusantara, sebuah program yang dirancang untuk memberdayakan penyandang disabilitas di ranah perfilman. Program ini dinilai bukan sekadar pelatihan hobi, melainkan  inisiatif pembukaan lapangan kerja profesional yang menggunakan pendekatan unik berbasis neurosains.

Melalui Sinema Inklusi Nusantara, paradigma lama tentang keterbatasan fisik diubah menjadi apresiasi terhadap keberagaman cara kerja otak manusia. Lahirnya program ini didasari oleh realitas bahwa banyak penyandang disabilitas memiliki cara kerja otak yang berbeda, mulai dari sensitivitas emosi yang tinggi hingga pemrosesan sensorik yang sangat mendalam.

Sayangnya, sistem kerja kantoran yang cenderung kaku dan seragam sering kali gagal menampung potensi ini. Ketua Yayasan Happyself Harmony Family, Prisca Priscilla, mengatakan hambatan selama ini bukan terletak pada kemampuan individu, melainkan pada sistem kerja yang kurang adaptif.

“Neurosains menunjukkan tidak semua otak dirancang untuk bekerja dalam struktur linear dan stabil sepanjang waktu. Banyak individu, termasuk penyandang disabilitas, memiliki otak yang lebih responsif terhadap emosi dan kreativitas. Jika ditempatkan di lingkungan yang tepat, perbedaan ini justru menjadi kekuatan,” ujar Prisca dalam keterangan tetulis yang diterima Republika pada Selasa (27/1/2026).

Jika menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, ada kabar baik di mana jumlah penyandang disabilitas yang bekerja mencapai 932.435 orang, atau naik sekitar 22 persen dari tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut nyatanya baru mewakili 0,64 persen dari total tenaga kerja nasional yang berjumlah 144,64 juta orang.

Sinema Inklusi Nusantara hadir untuk memperkecil celah tersebut dengan membangun ekosistem kreatif yang melibatkan difabel secara profesional. Mereka dilibatkan dalam setiap lini produksi, mulai dari pengembangan ide cerita, penulisan naskah, proses produksi di lapangan, hingga tahap penyuntingan dan distribusi karya ke publik.

Lingkungan kerja dalam industri film yang berbasis proyek dan kolaboratif dinilai jauh lebih fleksibel serta selaras dengan cara kerja otak kreatif yang non-linear. Hal ini sejalan dengan pandangan World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa disabilitas sebenarnya adalah hasil interaksi antara kondisi individu dan lingkungannya. Dengan menciptakan lingkungan yang inklusif, hambatan tersebut perlahan akan luruh dan potensi individu pun bisa mekar dengan optimal.

Program ini membawa misi kemandirian ekonomi yang nyata. Melalui Sinema Inklusi Nusantara, diharapkan lahir kreator-kreator disabilitas yang mampu mengubah kepekaan emosional mereka menjadi penghasilan berkelanjutan.

“Film bukan hanya medium cerita, tetapi juga medium kerja dan penghidupan. Ketika penyandang disabilitas diberi ruang untuk berkarya sesuai dengan cara kerja otaknya, mereka tidak hanya menghasilkan karya bermakna, tetapi juga membangun masa depan yang lebih mandiri dan bermartabat,” ujar perwakilan yayasan.

Read Entire Article
Politics | | | |