BKPM Pede Target Investasi Rp 13.032 Triliun Dapat Tercapai

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani optimistis target realisasi investasi sebesar Rp 13.032 triliun dalam lima tahun ke depan dapat tercapai. Rosan menyampaikan target tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi investasi dalam sepuluh tahun terakhir yang mencapai Rp 9.117 triliun.

“Target yang dicanangkan Bappenas yang diberikan kepada kami dalam lima tahun ke depan dalam rangka kita bisa mencapai pertumbuhan perekonomian delapan persen,” ujar Rosan saat rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Rosan menyebut sektor investasi sangat krusial karena berkontribusi sekitar 29–30 persen terhadap pertumbuhan perekonomian. Oleh karena itu, lanjut Rosan, pihaknya akan bekerja keras untuk memenuhi target pemerintah tersebut.

“Ini tentunya suatu hal yang tidak mudah, tetapi insya Allah kami bisa mencapainya,” ucap Rosan.

Keyakinan Rosan bersandar pada tren positif realisasi investasi pada 2025 yang mencapai Rp 1.931,2 triliun atau 101,3 persen dari target awal sebesar Rp 1.905,6 triliun. Capaian tersebut juga lebih tinggi 13,7 persen dibandingkan dengan realisasi investasi 2024.

“Ini juga menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 2.710.532 orang atau meningkat 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” lanjut Rosan.

Rosan memaparkan porsi penanaman modal asing (PMA) pada realisasi investasi 2025 tercatat sebesar Rp 900,9 triliun atau 46,6 persen. Sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 1.030 triliun atau 53,4 persen.

Ia juga menjelaskan realisasi investasi lebih banyak tercipta di luar Pulau Jawa, yakni sebesar 51,3 persen atau Rp 961,2 triliun, dibandingkan dengan Pulau Jawa sebesar Rp 940 triliun atau 48,7 persen. Rosan pun memerinci kontribusi daerah yang menerima investasi, baik dalam maupun luar negeri, sepanjang 2025.

“Enam besarnya ini masih Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara,” ucap Rosan.

Rosan menyampaikan investasi di Jawa Barat menyumbang 15,4 persen atau Rp 266,8 triliun, disusul Jakarta sebesar Rp 270,9 triliun atau 14 persen, Jawa Timur Rp 145,1 triliun atau 7,5 persen, Banten Rp 130,2 triliun atau 6,7 persen, Sulawesi Tengah Rp 127,2 triliun atau 6,6 persen, serta Maluku Utara Rp 90,7 triliun.

Ia menambahkan lima besar sektor realisasi investasi tertinggi tahun lalu berasal dari industri logam dasar dan barang logam bukan mesin atau peralatan sebesar Rp 262 triliun atau 13,6 persen. Selanjutnya sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp 211 triliun atau 10,9 persen, pertambangan Rp 199,6 triliun atau 10,3 persen, jasa lainnya Rp 170,5 triliun atau 8,8 persen, serta sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp 140,4 triliun atau 7,3 persen.

“Negara dengan kontribusi investasi tertinggi dari PMA selama 10 tahun terakhir ini Singapura memang konsisten di nomor pertama. Namun, kalau kita lihat lebih lanjut, sebetulnya jika digabung Hong Kong dan China, angkanya lebih besar investor dari China. Tetapi sejak dulu kita membedakan antara Hong Kong dan investasi yang masuk dari China,” kata Rosan.

Read Entire Article
Politics | | | |