Kisah 13 Makam di Cowra dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

3 hours ago 4

Oleh: Fitriyan Zamzami

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Lebih dari dua dekade lalu, Jan Lingard berkendara sekitar tiga jam ke arah barat dari Sydney ke kota pinggiran Cowra di New South Wales. Di kota tersebut, perempuan itu bersirobok dengan sejumlah makam dengan patok-patok kayu.

Nama-nama yang asing buat orang Negeri Kanguru masih bisa terbaca pada kayu-kayu lapuk tersebut berikut tanggal kapan mereka berpulang. Nisan-nisan itu sepenggal kisah dari perjalanan panjang menuju kemerdekaan sebuah negara di seberang Samudera Hindia.

Cowra, pada masa-masa Perang Dunia II, adalah tempat berlokasinya semacam kamp untuk tahanan perang. Ribuan warga dari negara poros seperti Jepang  Italia dan Jerman ditahan di sana.

Mulanya 800 warga dari wilayah yang nantinya jadi Indonesia dikirimkan ke sana pada 1942. Mereka dikirim ke kamp oleh pemerintah kolonial karena melakukan pemberontakan terhadap kapal Belanda dengan dalih meminta perlakuan setara dengan rekan-rekan Eropa dan Australia. Setelah dipukul mundur, para pelaut diberi dua pilihan: kembali ke kapal Belanda atau dimasukkan ke kamp kerja paksa militer. Banyak yang memilih tinggal di kamp.

Australia sedianya tak ada urusan dengan para tahanan itu, hanya kebetulan satu kongsi dengan Belanda sebagai sekutu.

Pada 1943, datang juga influks warga Nusantara ke Cowra. Kali ini buangan dari Tanah Merah, penjara politik Belanda di Boven Digul, Papua. Kamp itu didirikan pada 1927 untuk memenjarakan para aktivis komunis yang melancarkan pemberontakan besar-besaran pada 1926. 

Pemberontakan yang mencoba menggulingkan pemerintahan kolonial itu dimulai oleh kader-kader PKI di Jakarta pada November 1926, kemudian meluas ke Banten dan kota-kota lain di Jawa hingga ke Sumatra Barat.

Jumlah yang dikirim ke Digul beragam merujuk sumber-sumber. Merentang dari angka 800-an hingga 1.300 orang. Bagaimanapun, seiring waktu, tak hanya komunis, tapi juga pejuang kemerdekaan dari berbagai golongan diasingkan ke Digul. 

Pada 1942, saat Jepang naga-naganya bakal memukul mundur Belanda di Nusantara, para tawanan itu dibuang lagi ke kamp internir di Cowra. Pihak berwenang Belanda meyakinkan Australia bahwa para tahanan dan keluarganya bakal membantu Jepang jika tetap ditahan di Papua.

Untuk menelusuri sejarah itulah Bu Lingard ke Cowra pada awal 2000-an. Ia telah lama berkarir mengajar bahasa Indonesia di Australian National University dan University of Sydney. Temuannya tersebut nantinya dihimpun dalam buku Refugees and Rebels: Indonesian Exiles in Wartime Australia (2008).

Menurut Bu Lingard, sepanjang 1942 sampai 1947 diperkirakan ada lebih dari 5.000 orang “Javos”, sebutan di Australia kala itu untuk penduduk Nusantara, yang sempat tinggal di Cowra.

“Saya pergi ke Cowra untuk mencari peninggalan kisah itu,” kata Bu Lingard saat dihubungi Republika dari Jakarta, Selasa (3/2/2026). 

Di antara penanda sejarah itulah patok-patok kayu yang ia sambangi pada awal pergantian milenium. “Waktu itu tiang-tiang kayunya sudah pada keropos,” tutur perempuan yang tak lagi muda itu. 

Menurutnya, mereka yang dikuburkan di sana meninggal karena sakit di kamp tahanan. Sebagian karena sakit bawaan, namun ada juga anak-anak yang terkena campak setibanya di Australia. “Tidak ada yang meninggal karena kekejaman atau pembunuhan.”

Ada 13 jumlah makam dengan nama-nama “Indonesia” tersebut. Menurut catatan Cowra Breakout Association, ada 12 yang sudah teridentifikasi dari tulisan di makam. Tiga diantaranya; Matoha yang meninggal pada 26 Juli 1942, Moein (30 September 1842), dan Said (9 Oktober 1942) adalah pelaut yang kemungkinan masuk rombongan tahanan pemberontakan kapal pada 1942.

Sedangkan Soengeb al Kartomidjojo (30 Juni 1943), Masian (17 Juli 1943), Nadji Adenan (20 Juli 1943, dan Kadarisman (27 Juli 1943) adalah “tahanan politik”, kemungkinan terkait pemberontakan pada 1926 atau gerakan nasionalis Indonesia.

Sementara anak-anak dan bayi keluarga tahanan politik yang dimakamkan di sana adalah April (12 Agustus 1943), Soelastimah (22 Agustus 1943), Evani (23 Agustus 1943), dan Kaswadi (26 September 1943).

Menengok catatan kematian mereka, terlihat bahwa udara dingin di Cowra dan hidup berdesak-desakan di kamp menyiksa betul para tahanan ini. Tujuh di antara mereka meninggal karena pneumonia, penyakit pernapasan yang kerap dikaitkan dengan udara dingin dan ruangan sempit.

Makam Salamah...

Read Entire Article
Politics | | | |