Harga Emas Anjlok, Warga Ritel Antre Borong Emas di Singapura

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA — Antrean pembeli emas terlihat di Singapura pada Senin (2/2/2026) ketika harga logam mulia tersebut mengalami penurunan tajam. Fenomena ini menunjukkan ketahanan permintaan ritel terhadap emas di tengah gejolak pasar global.

Di kantor pusat United Overseas Bank (UOB), satu-satunya bank di Singapura yang menyediakan produk emas fisik bagi investor ritel, para nasabah dan pembeli langsung memadati ruang khusus transaksi emas batangan.

“Saya datang untuk membeli karena harga emas turun hari ini,” kata Ng Beng Choo, seorang pensiunan berusia sekitar 70 tahun, dikutip dari Business Times, Selasa (3/2/2026).

Ia mengaku sudah tiba dan mengambil nomor antrean sejak pukul 09.30 pagi, namun masih menunggu lebih dari enam jam kemudian.

Reli panjang harga logam mulia meningkat tajam sepanjang Januari lalu, dipicu ketidakpastian geopolitik global setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengubah tatanan geopolitik dan kembali melontarkan kritik terhadap bank sentral AS, Federal Reserve. Namun, reli tersebut berbalik arah pada Jumat dan berlanjut hingga awal pekan ini. Pada satu titik, harga emas sempat turun lebih dari seperlima dari rekor tertingginya pekan lalu.

Meski demikian, alih-alih menjual, banyak investor ritel justru memanfaatkan penurunan harga tersebut untuk membeli. Pada Senin, harga emas tercatat turun mendekati 4.400 dolar AS per ons.

Sebagai pusat kekayaan global, Singapura menjadi tujuan populer pembelian emas karena tidak mengenakan pajak atas emas batangan berstandar investasi maupun pajak keuntungan modal.

Fenomena serupa juga terjadi di Australia. Di pusat Sydney, antrean pembeli mengular hingga ke jalan dari sebuah gerai ABC Bullion di dekat Martin Place.

“Saya kehilangan banyak uang pada Jumat, tapi besok adalah hari yang baru,” ujar Alex, pria berusia 20-an tahun yang mengantre untuk membeli emas batangan dan enggan menyebutkan nama lengkapnya.

Para pembeli ritel dinilai bertaruh bahwa faktor utama kenaikan harga emas masih bertahan, mulai dari ketidakpastian kebijakan Presiden Trump hingga strategi investor global yang menghindari mata uang dan obligasi negara. Optimisme tersebut juga sejalan dengan pandangan Deutsche Bank yang dalam catatan risetnya pada Senin tetap mempertahankan proyeksi harga emas bisa menembus 6.000 dolar AS per ons.

Di Thailand, di mana emas batangan dan perhiasan sangat populer, investor cenderung mempertahankan kepemilikan mereka ketimbang menjual. Kepala Eksekutif perusahaan pialang Globlex Securities, Thanapisal Koohapremkit, mengatakan tren pembelian masih berlangsung.

“Trennya masih membeli di Thailand. Mereka mempertahankan posisi lama dan menunggu perkembangan,” ujarnya.

Sementara itu, di UOB Singapura, banyak pelanggan yang datang tanpa pemesanan sebelumnya terpaksa kecewa. Seluruh produk dari MKS PAMP, salah satu merek emas batangan paling dikenal di dunia, dilaporkan telah habis terjual. Sejumlah pembeli yang datang lebih siang tidak lagi kebagian antrean.

“Karena respons yang sangat besar, tiket antrean pembelian untuk hari ini telah habis dibagikan,” demikian pengumuman yang terpasang di sejumlah sudut kantor pusat UOB. “Terima kasih atas kesabaran Anda.”

Read Entire Article
Politics | | | |