IHSG Tinggalkan Level 8.000, Pengamat Nilai Kepercayaan Pasar Belum Pulih

4 hours ago 5

IHSG mengalami kemerosotan hampir 5 persen dan meninggalkan level 8.000 pada perdagangan Senin (2/2/2026). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan hampir 5 persen dan meninggalkan level 8.000 pada perdagangan Senin (2/2/2026), meskipun pemerintah telah berupaya melakukan koordinasi usai dua hari berturut-turut terjadi trading halt pada pekan lalu. Pengamat menilai kondisi tersebut menunjukkan belum pulihnya kepercayaan investor.

Mengutip RTI, IHSG tercatat meninggalkan level 8.000. IHSG merosot 4,88 persen atau 406 poin ke level 7.922,73 pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026). “Kalau pemerintah sudah bekerja sepanjang akhir pekan, kenapa IHSG tetap jatuh pada hari Senin? Amblesnya IHSG bukan sekadar statistik pasar. Ia adalah sinyal keras bahwa kepercayaan belum pulih. Padahal, Sabtu dan Ahad sebelumnya negara tidak diam. Pemerintah bergerak cepat. Koordinasi lintas lembaga dilakukan,” kata Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Achmad berpendapat, pemerintah dalam upaya koordinasinya telah menyampaikan pernyataan penenang kepada para pelaku pasar modal melalui wacana reformasi pasar modal yang digulirkan. Bahkan, nama BPI Danantara dan dana institusi besar ikut disebut sebagai penopang.

“Dari sisi niat, negara sudah hadir, namun pasar tetap jatuh. Artinya, ada jarak antara apa yang dikatakan negara dan apa yang diyakini pelaku pasar,” tuturnya.

Achmad mengatakan, langkah pemerintah pada Sabtu (31/1/2026) dan Ahad (1/2/2026), usai pasar mengalami goncangan hebat, patut diapresiasi. Dalam banyak kasus, kepanikan justru muncul karena negara lambat atau saling lempar tanggung jawab.

Pesan yang disampaikan pun dianggap jelas, bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Gejolak IHSG dipandang sebagai kondisi sementara. Reformasi pasar modal pun dipastikan akan dipercepat. Hal itu penting untuk mencegah kepanikan massal dan menjaga optimisme publik.

“Masalahnya, pasar modal bukan hanya mendengar kata-kata. Pasar membaca arah. Dan pada Senin pagi, arah itu belum cukup meyakinkan,” ujarnya.

Read Entire Article
Politics | | | |