Israel Panik, AS Bolehkan Saudi Perkaya Uranium

10 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Pihak Israel dibuat khawatir dengan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi yang mengizinkan kerajaan tersebut membangun reaktor nuklir menggunakan teknologi Amerika serta melakukan pengayaan uranium. Mantan perdana menteri Israel, Naftali Bennett menilai hal itu dapat memicu perlombaan nuklir regional.

"Kesepakatan nuklir yang sedang dirancang bersama Arab Saudi—yang dilakukan tanpa melibatkan Israel—merupakan kegagalan strategis serius yang membahayakan keamanan kita," ujar Bennett, yang berupaya menggulingkan Netanyahu dalam pemilihan umum tanggal 27 Oktober.

"Pengayaan nuklir di wilayah Arab Saudi dapat memicu perlombaan nuklir regional dan hilangnya kendali yang berbahaya," kata dia dilansir Aljazirah.

Menurut sejumlah laporan, pemerintahan Trump berencana mengajukan kesepakatan dengan Arab Saudi tersebut kepada Kongres AS dalam waktu dekat. Kedua belah pihak telah menandatangani kesepakatan awal di Riyadh pada tahun lalu.

Menteri Luar Negeri AS telah memberikan komentar mengenai kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi yang baru saja diumumkan. "Bahkan setelah pengumuman resmi dibuat, kesepakatan itu harus melalui proses pemberitahuan kepada Kongres.

"Kemudian kita bisa membahasnya lebih mendalam, namun yang jelas, AS senantiasa berupaya menjalin perjanjian kerja sama dengan negara-negara sekutu."

Ia menyebut Arab Saudi sebagai "sekutu strategis" Washington. "Ketika negara-negara memutuskan untuk menjalankan program nuklir sipil yang damai, kami lebih memilih mereka melakukannya bersama kami dibandingkan dengan negara lain."

Menurut sejumlah laporan, pemerintahan Trump berencana mengajukan kesepakatan dengan Arab Saudi tersebut kepada Kongres AS dalam waktu dekat. Kedua belah pihak telah menandatangani perjanjian awal di Riyadh pada tahun lalu.

Amerika Serikat dan Arab Saudi dilaporkan telah mencapai kesepakatan kerja sama nuklir semalam. Departemen Energi AS pada Rabu menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai langkah yang "bersejarah", seraya menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan AS akan menyediakan teknologi nuklir bagi kerajaan tersebut.

Kesepakatan tersebut mencakup perjanjian berdasarkan Pasal 123 Undang-Undang Energi Atom tahun 1954—yang dikenal sebagai "perjanjian 123"—serta "perjanjian pengamanan bilateral yang menyertainya," demikian pernyataan departemen tersebut. "Perjanjian-perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara untuk memperkuat hubungan komersial AS-Arab Saudi, serta mewujudkan kemakmuran di dalam negeri dan keamanan bagi sekutu-sekutu kita di luar negeri," ujar Menteri Energi Chris Wright dalam sebuah pernyataan. 

"Yakinlah, perjanjian-perjanjian ini menjunjung tinggi standar tertinggi keselamatan nuklir dan non-proliferasi, sembari mengandalkan teknologi nuklir dan ilmuwan terbaik dunia yang dirancang langsung di Amerika Serikat." 

Sejumlah laporan media AS mengindikasikan bahwa kesepakatan ini akan memungkinkan Arab Saudi melakukan pengayaan uranium di dalam negeri, alih-alih mengimpor bahan bakar nuklir dari AS. Pernyataan Departemen Energi tidak merinci perihal pengayaan tersebut. 

Read Entire Article
Politics | | | |