Wa Laa Tafarroquu: Mengupas Makna Solidaritas Santri Gontor

6 hours ago 8

Image umar arsyad

Agama | 2026-07-23 19:52:23

Potret para santri Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2 dalam momen kebersamaan di lingkungan pondok. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

“Wa’taṣhimu biḥablillahi jami‘an wa laa tafarraq.”

Artinya adalah “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103).

Ayat ini bukan sekadar seruan untuk menjaga persatuan antar sesama, tetapi juga menjadi fondasi kehidupan bersosial.

Di Pondok Modern Darussalam Gontor, semangat tersebut diwujudkan melalui solidaritas antarsantri yang tumbuh dalam kegiatan sehari-hari – belajar bersama, bekerja bersama, hingga saling menguatkan dalam setiap amanah dan ujian yang ada.

Solidaritas bukan sekadar berkumpul dalam satu tempat atau mengenakan seragam yang sama. Solidaritas adalah kesediaan untuk berbagi cerita suka dan duka, mengulurkan tangan ketika saudara mengalami kesulitan, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Dalam Islam, nilai ini menjadi bagian dari ukhuwah Islamiyyah yang mengikat sesama muslim dalam satu ikatan keimanan.

Tumbuhnya Jiwa Solidaritas dari Kehidupan Bersama

Solidaritas di Gontor tidak lahir dari dalam ruang kelas semata, melainkan juga tumbuh melalui kehidupan bersama selama dua puluh empat jam.

Para santri berasal dari berbagai daerah, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda. Mereka di persatukan oleh tujuan yang sama, yaitu tholabul ilmi (menuntut ilmu) dan membentuk karakter.

Interaksi yang berlangsung setiap hari mengajarkan arti saling menghargai, saling membantu, dan saling memahami perbedaan.

Dari sinilah tumbuh rasa persaudaraan yang tidak dibangun karena kesamaan wilayah, tetapi karena kesamaan cita-cita dan nilai perjuangan.

Solidaritas Adalah Amanah

Berbagai kegiatan pondok, mulai dari OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern), kepramukaan, kerja bakti, hingga kepanitiaan acara besar, menjadi wadah bagi santri untuk belajar bekerja sama.

Jiwa solidaritas mengajarkan bahwa keberhasilan bukanlah hasil kerja suatu individu, melainkan buah hasil dari kebersamaan seluruh anggota.

Melalui proses tersebut, santri belajar menekan ego pribadi demi kepentingan bersama. Mereka menyadari bahwa setiap tugas, sekecil apa pun, pasti memiliki peran penting dalam menuntut kelancaran kehidupan pondok dan memperkuat rasa tanggung jawab.

Solidaritas: Bekal Kehidupan Santri

Solidaritas yang ditanamkan di Pondok Modern Darussalam Gontor tidak berhenti ketika santri menyelesaikan pendidikannya.

Nilai tersebut menjadi bekal untuk berinteraksi di tengah masyarakat luas, membangun sikap kepedulian sosial, serta menghadapi berbagai problem kehidupan dengan jiwa kebersamaan.

Pada akhirnya, solidaritas bukan hanya mempererat hubungan antarsantri, tetapi juga membentuk pribadi yang siap mengabdi kepada masyarakat.

Sebab, jiwa ukhuwah yang dibangun atas dasar iman, akan melahirkan generasi yang tangguh, berintegritas, dan senantiasa membawa manfaat antar sesama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |