REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Slow jogging menjadi salah satu tren olahraga yang ramai diperbincangkan di media sosial. Metode lari dengan tempo santai atau pelan ini mulai banyak diminati karena dinilai lebih ramah bagi pemula, mudah dilakukan, serta tetap menawarkan berbagai manfaat kesehatan bagi tubuh.
Pakar kesehatan sekaligus dosen di IPB University, Putri Utami, mengatakan secara ilmiah slow jogging memiliki manfaat kesehatan yang sangat menjanjikan, terutama dalam meningkatkan kebugaran, kesehatan jantung, serta metabolisme tubuh tanpa memberikan beban fisik yang berlebihan. Menurut Putri, slow jogging dilakukan pada kecepatan santai atau niko-niko pace yaitu intensitas sekitar 50 persen dari kapasitas aerobik maksimal dengan detak jantung berkisar 110-140 denyut per menit. Kondisi ini memungkinkan tubuh bekerja pada zona yang optimal untuk meningkatkan fungsi kardiovaskular dan metabolisme.
"Pada intensitas tersebut, tubuh lebih banyak memanfaatkan lemak sebagai sumber energi dibandingkan glikogen otot. Selain membantu mengurangi lemak tubuh, latihan ini juga merangsang pembentukan mitokondria dan pembuluh darah kapiler baru yang utama untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam jangka panjang," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (23/7/2026).
Meskipun pembakaran kalori per menit lebih rendah dibandingkan jogging konvensional, manfaat adaptasi fisiologis yang dihasilkan dalam jangka panjang sangat mendekati. Oleh karena itu, Putri menyebut jika slow jogging dapat menjadi pilihan olahraga yang efektif tanpa harus memaksakan tubuh bekerja pada intensitas tinggi.
"Slow jogging merupakan pintu masuk yang ideal bagi masyarakat yang selama ini jarang berolahraga," kata dia.
Menurut Putri, selama ini banyak orang gagal mempertahankan kebiasaan berolahraga karena langsung memilih aktivitas dengan intensitas tinggi. Padahal, lari intensitas tinggi lebih risiko menyebabkan cedera dan kelelahan ekstrem sehingga membuat seseorang enggan kembali berolahraga.
Sementara itu, slow jogging memiliki teknik berlari yang menggunakan pendaratan pada bagian tengah kaki atau midfoot strike, bukan pada tumit. Hal ini membuat risiko cedera ketika slow jogging jauh lebih rendah.
"Nah kalau teknik slow jogging menggunakan pendaratan pada bagian midfoot strike, bukan tumit. Cara ini membantu mengurangi beban kejut pada lutut dan pinggul sehingga risiko cedera menjadi lebih rendah," ujar Putri.
la menambahkan, berbagai penelitian juga menunjukkan tingkat kepatuhan latihan slow jogging sangat tinggi, bahkan pada kelompok lanjut usia. Selain meningkatkan kapasitas kebugaran, olahraga ini terbukti mampu memperbaiki fungsi gerak sehingga cocok diterapkan bagi individu yang sebelumnya memiliki gaya hidup kurang aktif.

10 hours ago
9














































