
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puasa baru beberapa hari mengetuk pintu, perut mulai berlatih sabar, dan sebagian orang tiba-tiba menjadi kritikus film dadakan. Pertanyaannya klasik: bolehkah Ramadhan ditemani layar lebar?
Jawabannya tergantung isi tontonan. Jika film itu mengajak hati mengingat Allah, meneguhkan iman, meningkatkan taqwa, dan menanamkan keberanian moral, maka ia lebih mirip pengajian visual daripada hiburan kosong.
Dalam kategori inilah film animasi David produksi Angel Studios mencoba mengambil tempat. Ini kisah seorang anak gembala yang menumbangkan raksasa, lalu harus berhadapan dengan raksasa yang jauh lebih rumit — kekuasaan, iri hati, dan nasib.
Film berdurasi hampir dua jam ini memang lebih mengikuti alur utama Alkitab (kitab 1 Samuel): masa kecil Daud sebagai gembala di Betlehem Palestina, pengurapan oleh Nabi Samuel, keberanian menghadapi Goliat, perannya menenangkan Raja Saul dengan musik. Dalam al-Qur'an, Saul sebagai raja pertama Bani Israel dikenal dengan nama Thalut.
Film berkisah mulai dari persahabatan Daud dengan Yonatan, sang putra raja, hingga cerita kecemburuan Saul yang berubah menjadi perburuan atasnya. Narasi film tidak berhenti pada duel legendaris itu. Justru konflik batin dan politik setelah kemenangan menjadi bagian penting perjalanan Daud menuju takdirnya sebagai raja.
Dalam Alkitab, kisah Daud dimulai dari pemilihan Tuhan atasnya yang mengejutkan: “Man looks at the outward appearance, but the Lord looks at the heart” (1 Samuel 16:7). Maksudnya: manusia cenderung menilai berdasarkan penampilan luar — fisik, status, atau kesan pertama — sedangkan Tuhan menilai hati: iman, kejujuran, ketulusan, dan sifat batin.
Ayat itu merujuk pada momen penting ketika Nabi Samuel diutus Tuhan untuk memilih raja baru menggantikan Saul (1 Samuel 16:13). Secara manusiawi, orang akan menduga calon raja harus tinggi, kuat, tampan, dan berwibawa. Ketika Samuel melihat kakak-kakak Daud yang berpostur gagah, ia sempat mengira merekalah pilihan Tuhan.
Daud dikenal sebagai pemain kecapi yang mampu menghibur dan menenangkan Saul (1 Samuel 16:23) dengan musik, kemudian menghadapi Goliat (Jalut) dengan keyakinan bahwa kemenangan datang dari Tuhan (1 Samuel 17:45–47). Setelah itu, popularitasnya memicu kecemburuan Saul, yang menandai awal konflik panjang.
Al-Qur’an menampilkan kisah Nabi Daud (Dāwūd) dengan fokus yang berbeda. Ia menampilkan Daud bukan sekadar pahlawan militer, tetapi nabi dan raja yang dianugerahi hikmah dan keadilan. Sejumlah ayat al-Qur'an menampilkan kisah Nabi Daud dengan sempurna.
Dalam Surah Al-Baqarah 2:251 disebutkan bahwa Daud membunuh Jalut dan Allah memberinya kerajaan serta hikmah. Surah Sad 38:17–26 menekankan sifat spiritualnya: ia bertasbih bersama gunung dan burung, serta diuji dalam keadilan sebelum bertobat dan kembali kepada Allah.
Surah Saba’ 34:10 menggambarkan mukjizat Nabi Daud: pelunakan besi. Tafsir Ibnu Katsir dan At-Thabari menjelaskan, besi menjadi lunak di tangan Daud sehingga ia dapat membentuknya tanpa perlu proses peleburan rumit. Ia membuat baju zirah yang kuat namun ringan untuk perlindungan pasukan (lihat juga Qs. Al-Anbiya' 21:80).
Perbedaan fokus kedua kitab suci menarik. Alkitab memberi narasi historis-politik yang rinci, lengkap dengan intrik istana dan drama psikologis Saul. Sementara Al-Qur’an menyoroti dimensi kenabian: keadilan, ibadah, hikmah, dan pertobatan. Kedua kitab sama-sama menampilkan Daud sebagai hamba pilihan yang diuji oleh kekuasaan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
6












































