REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejumlah warga penyintas bencana hidrometeorologi di Desa Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, mendesak percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) setelah lebih dari tiga bulan tinggal di barak pengungsian.
“Kami meminta pembangunan huntap bisa dipercepat. Lahan sudah tersedia, tinggal dibangun saja,” kata penyintas, Dede Hermanto, di Bireuen, Rabu.
Dede bersama sekitar 200 jiwa dari 45 kepala keluarga kehilangan rumah dan lahan akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025. Hingga kini, mereka masih bertahan di barak hunian sementara yang dibangun lembaga kemanusiaan.
Kondisi barak dinilai belum memadai. Setiap kamar berukuran 2x2 meter dihuni lebih dari tiga orang, bahkan ada yang mencapai lima orang dalam satu ruangan.
Penyintas lainnya, Saipul Huri, menuturkan selama di pengungsian mereka masih bergantung pada bantuan logistik dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan. Namun, sejumlah bantuan yang dijanjikan belum terealisasi.
“Bantuan rumah rusak, stimulan ekonomi, dan perabotan belum kami terima. Kami baru menerima dana tunggu hunian,” ujar Saipul.
Keuchik (Kepala Desa) Alue Kuta, Habibullah, memastikan lahan pembangunan huntap telah tersedia seluas sekitar 6.500 meter persegi untuk 45 keluarga terdampak.
Menurut dia, pembangunan huntap akan dilakukan oleh lembaga kemanusiaan Laznas Daarut Tauhid (DT) Peduli. Prosesi peletakan batu pertama juga telah dilaksanakan.
“Huntap yang dibangun tipe 36 berbentuk rumah panggung. Informasinya, pembangunan akan dimulai dalam waktu dekat,” kata Habibullah.
Selain hunian, pemerintah desa juga berharap adanya bantuan pembangunan fasilitas ibadah yang rusak akibat bencana.
“Kami juga berharap musala yang rusak bisa segera dibangun kembali,” ujarnya.
Di sisi lain, upaya pemulihan sektor pertanian juga terus dilakukan pemerintah di wilayah terdampak bencana.
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara mengintensifkan pengelolaan lahan sawah yang tidak terdampak banjir guna menjaga produksi pangan tetap stabil.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi, mengatakan sekitar 54 persen dari total lahan baku sawah seluas 39.762 hektare masih dapat dimanfaatkan secara optimal.
sumber : Antara

4 hours ago
3
















































