Tekan Inflasi Pangan, NEH Dorong Institusi Terapkan Menu Nabati

2 hours ago 2

Nutrisi Esok Hari (NEH) mendorong penerapan menu berbasis nabati melalui edukasi dan pendampingan bagi berbagai kalangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tekanan harga pangan masih mendorong inflasi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2025 sebesar 0,64 persen secara bulanan dan 2,92 persen secara tahunan, dengan komoditas pangan seperti cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan beras menjadi penyumbang utama.

“Kami percaya transformasi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan dimulai dari piring kita sehari-hari. Sudah banyak data membuktikan bahwa pangan nabati tak hanya lebih ramah bagi lingkungan, tapi juga lebih menyehatkan. Beralih ke pangan nabati mudah dan terjangkau untuk diterapkan oleh institusi mana pun di Indonesia,” ujar Yohana Sadeli, perwakilan tim Nutrisi Esok Hari (NEH) dalam keterangan yang diterima, Selasa (27/1/2026).

Di tengah kondisi tersebut, NEH memperkuat komitmennya mendorong sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui edukasi dan pendampingan menu berbasis nabati bagi berbagai institusi. Memasuki 2026, NEH melanjutkan rangkaian kegiatan edukasi yang telah dijalankan sepanjang 2025.

BPS mencatat, cabai rawit menyumbang inflasi bulanan terbesar Desember 2025 dengan andil 0,17 persen, disusul daging ayam ras 0,09 persen, serta bawang merah 0,07 persen. Secara tahunan, beras turut memberikan andil inflasi sebesar 0,15 persen, mencerminkan tekanan terhadap konsumsi rumah tangga.

Merespons kondisi tersebut, NEH menilai diversifikasi pola konsumsi menjadi penting. Sepanjang 2025, NEH menggelar road trip edukasi pada 22–29 November 2025 di Majalaya, Indramayu, dan Cirebon, menyasar institusi pendidikan dan organisasi sosial untuk mulai menerapkan menu bergizi seimbang berbasis nabati yang setidaknya disajikan satu kali dalam sepekan.

Urgensi transisi ke pangan nabati juga didorong oleh dampak lingkungan. Produksi pangan global menyumbang sekitar 26 persen emisi gas rumah kaca dunia, sementara produksi pangan hewani dinilai lebih boros air dan lahan. Produksi daging sapi membutuhkan lahan dan menghasilkan emisi hingga 20 kali lebih besar per gram protein dibandingkan kacang-kacangan.

Read Entire Article
Politics | | | |