REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Transformasi digital di Indonesia memasuki fase baru pada 2026 setelah melewati periode eksperimentasi sepanjang 2025. Pemanfaatan komputasi awan, kecerdasan buatan, dan data science kini bergerak dari tahap uji coba menuju penerapan operasional yang menentukan daya saing korporasi.
Dalam pemetaan lanskap digital 2026, Terralogiq yang merupakan Google Premier Partner, mengidentifikasi empat kecenderungan utama yang membentuk arah transformasi digital di Indonesia, khususnya di sektor keuangan, layanan publik, logistik, dan ritel.
Pertama, peran komputasi awan bergeser dari sekadar infrastruktur penyimpanan menjadi pusat kendali operasional dan keamanan. Strategi cloud-first mulai digunakan sebagai fondasi pengelolaan data lintas unit dengan pendekatan keamanan sejak perancangan, sejalan dengan tuntutan kepatuhan regulasi yang semakin ketat.
Kedua, kecerdasan buatan tidak lagi tampil sebagai antarmuka layanan semata, melainkan terintegrasi langsung dalam proses kerja. Teknologi agentic AI mulai digunakan untuk mendukung fungsi operasional seperti manajemen risiko, analisis dokumen, dan pengelolaan rantai pasok secara otomatis.
“AI kini bekerja di balik layar sebagai bagian dari proses operasional harian, bukan lagi sekadar fitur tambahan,” kata Chief Technology Officer Terralogiq, Farry Argoebie, Selasa (27/1/2026).
Ketiga, pemanfaatan data science bergerak dari pelaporan historis menuju analitik preskriptif. Perusahaan mulai memanfaatkan data perilaku pelanggan dan data operasional untuk menghasilkan rekomendasi tindakan secara real time, bukan hanya memahami kondisi masa lalu.
Keempat, integrasi data lokasi atau location intelligence menjadi faktor penting dalam konteks Indonesia. Dengan karakter geografis yang kompleks, pemanfaatan data spasial yang terhubung dengan sistem cloud dan AI mendukung efisiensi logistik, perencanaan rute, serta pengelolaan jaringan ritel dan layanan lapangan.
Dalam konteks regional, Indonesia dipandang sebagai pasar utama transformasi digital Asia Tenggara. Skala ekonomi digital yang besar membuat Indonesia menjadi arena penerapan teknologi global yang menuntut penyesuaian dengan konteks lokal.
Berdasarkan pengamatan terhadap penerapan teknologi di sektor perbankan dan ritel, konsistensi eksekusi menjadi faktor pembeda pada 2026. Cloud, AI, dan pemetaan digital tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berfungsi sebagai satu kesatuan sistem dalam mendukung pengambilan keputusan dan efisiensi operasional.

3 hours ago
4















































