Perempuan dan Generasi Muda Dominasi Investor SBN Ritel, Pemerintah Siapkan 8 Seri Tahun Ini

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Minat masyarakat untuk berinvestasi pada Surat Berharga Negara (SBN) ritel sangat tinggi. Merespons antusiasme itu, pemerintah telah menyiapkan delapan seri SBN ritel yang akan diterbitkan sepanjang tahun 2026. Optimisme ini berkaca pada tren positif sepanjang 2025, ketika partisipasi investor individu, terutama dari kalangan generasi muda dan perempuan, menjadi penopang utama.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 pemerintah sukses menerbitkan delapan seri SBN ritel. Animo publik terbukti tinggi dengan total investor yang terlibat mencapai 262 ribu orang.

“Di tahun 2025, kita lihat di sini selama 2025 itu pemerintah sudah menerbitkan delapan seri. Di sini ada delapan seri yang diterbitkan,” ujar Novi di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Capaian tersebut menjadi bukti sahih bahwa instrumen investasi pelat merah ini kian akrab di telinga masyarakat luas. Menariknya, jika dibedah dari sisi demografi, kaum perempuan justru memegang kendali.

Novi memaparkan bahwa investor perempuan mendominasi porsi pembelian SBN ritel sepanjang tahun lalu. “Tapi in fact, ketika kita lihat pembelian SBN ritel 2025, itu perempuan 58 persen,” ungkapnya.

Tak hanya didominasi perempuan, lanjut Novi, regenerasi investor pun berjalan mulus. Generasi muda kini menjadi motor utama pertumbuhan. Berdasarkan catatannya, gabungan generasi milenial dan generasi Z (Gen Z) menguasai porsi sekitar 57 persen dari total investor SBN ritel. Angka ini menandakan literasi keuangan di kalangan anak muda kian matang.

“Artinya, di sini sebenarnya statistik yang sangat bagus. Jadi, generasi muda sudah mulai banyak yang berpartisipasi, bahkan mayoritas,” jelas Novi.

Meski demikian, sebaran investor masih terpusat di wilayah Indonesia bagian barat, termasuk DKI Jakarta. Bagi pemerintah, ketimpangan geografis ini bukan sekadar tantangan, melainkan peluang besar untuk memperluas jangkauan ke wilayah tengah dan timur Indonesia yang potensinya belum tergarap maksimal. “Ini menunjukkan sebenarnya tantangan, tapi sekaligus juga harapan ke depan,” katanya.

Lonjakan jumlah investor ini tak lepas dari transformasi digital melalui penerapan Single Investor Identification (SID) sejak 2018. Sistem ini memangkas birokrasi, membuat akses pembelian SBN menjadi semudah belanja daring.

Sejak saat itu, grafik jumlah investor terus meningkat. “Sejak penerapan SID di tahun 2018, kita lihat jumlah investor itu terus meningkat,” tutur Novi.

Bahkan, jika ditarik mundur sejak awal penerbitan SBN ritel pada 2006 hingga Desember 2025, total investor telah menembus angka satu juta orang.

Menyambut tahun 2026, pemerintah tak hanya menyiapkan delapan seri SBN ritel, tetapi juga telah menyusun jadwal penawaran tentatif selama setahun penuh. Jadwal ini dirancang agar masyarakat dapat mengatur arus kas dan perencanaan keuangannya dengan lebih matang. “Ini bisa digunakan sebagai acuan buat para investor,” imbuh Novi.

Ia menegaskan bahwa SBN ritel kini memiliki peran ganda yang strategis, yakni sebagai instrumen investasi inklusif bagi masyarakat dan sebagai penopang pembiayaan negara. Dana yang dihimpun dari masyarakat ini akan mengalir langsung ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membiayai berbagai agenda pembangunan nasional.

“SBN ritel ini sudah menjadi satu instrumen pembiayaan yang semakin kuat dan inklusif,” katanya.

Read Entire Article
Politics | | | |